Langsung ke konten
Pekerja penyamakan kulit mengenakan alat pelindung diri di jalur produksi pabrik, dengan rantai besi tergantung melintasi bingkai foto

LWG dan Pekerja: Mengapa Sertifikasi Ini Belum Mencakup Audit Sosial Komprehensif?

Mengungkap sisi gelap di balik rantai pasok kulit, dari kondisi kerja berbahaya hingga pelanggaran hak asasi yang tak terjamah oleh sertifikasi LWG.

by Aika Mentari · September 10, 2025

Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen akan produk yang etis dan berkelanjutan, berbagai sertifikasi hadir sebagai penanda kepercayaan. Dalam industri kulit, label seperti yang dikeluarkan oleh Leather Working Group (LWG) sering dianggap sebagai standar emas, sebuah jaminan bahwa produk yang kita gunakan diproses dengan tanggung jawab. Namun, di balik kilau medali perak atau emas yang diberikan kepada para penyamak kulit, terdapat sebuah celah kritis yang seringkali luput dari perhatian: ketiadaan audit sosial yang komprehensif. Realitasnya, banyak dari sertifikasi ini berfokus secara sempit pada aspek lingkungan di dalam pabrik penyamakan, sementara mengabaikan rantai pasok yang lebih luas, terutama kesejahteraan manusia yang terlibat di dalamnya dan perlakuan terhadap hewan. Artikel ini akan mengupas secara mendalam keterbatasan signifikan dari proses sertifikasi yang ada, menyoroti bagaimana ketiadaan audit sosial memungkinkan berbagai isu hak asasi manusia, perburuhan, dan kesejahteraan hewan terus berlangsung tanpa terdeteksi.

Di Balik Label “Berkelanjutan”: Celah Kritis dalam Sertifikasi Kulit Global

Sertifikasi dalam industri kulit, khususnya yang dipelopori oleh Leather Working Group (LWG), muncul sebagai respons terhadap tuntutan akan praktik produksi yang lebih ramah lingkungan. LWG berfokus pada evaluasi kinerja lingkungan dari para penyamak kulit dan produsen. Protokol audit mereka mencakup berbagai aspek penting seperti pengelolaan air dan limbah, efisiensi energi, keamanan bahan kimia, dan jejak karbon. Tujuan utamanya adalah untuk mempromosikan praktik bisnis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dalam industri kulit. Dengan memberikan peringkat (Emas, Perak, Perunggu), LWG menciptakan sebuah tolok ukur yang mendorong para penyamak untuk terus memperbaiki proses mereka agar tidak mencemari lingkungan sekitar secara berlebihan. Inisiatif ini patut diacungi jempol karena berhasil mendorong perubahan positif dalam penanganan limbah cair dan penggunaan zat kimia berbahaya.

Namun, di sinilah presisi menjadi penting, karena gambarannya sudah bergeser. Sejak 2021, Protokol 7 (P7) milik LWG memang mencantumkan seksi Audit Sosial — salah satu dari 17 seksi dalam Leather Manufacturer Standard mereka, berdampingan dengan seksi terpisah untuk kesiapsiagaan darurat dan keselamatan kerja. Tapi LWG tidak menjalankan audit sosial itu sendiri: penyamak cukup melampirkan sertifikat dari salah satu skema pihak ketiga yang mereka akui, seperti amfori BSCI, SA8000, SMETA, atau Higg FSLM. Dan yang lebih penting, LWG sendiri menyatakan seksi ini masih berstatus “non-critical” — nilainya masuk ke skor keseluruhan, tetapi belum menjadi syarat wajib untuk lulus sertifikasi, dan baru rencananya “dijadikan kritis pada pembaruan berikutnya”. Artinya, sebuah pabrik penyamakan hari ini masih bisa meraih peringkat Emas LWG tanpa pernah menjalani satu pun audit sosial yang diakui LWG. Lebih jauh lagi, keempat standar sertifikasi LWG — untuk penyamak, pedagang, commissioning manufacturer, dan subkontraktor — semuanya berhenti di tahap kulit jadi. Tidak satu pun mencakup pabrik yang menjahit kulit itu menjadi tas, sepatu, atau notebook, apalagi pekerja rumahan yang mengerjakan sebagian proses itu di rumah mereka sendiri — persis lapisan rantai pasok yang akan kita telusuri di bagian berikutnya. Audit LWG juga tetap tidak memasukkan pertimbangan kesejahteraan hewan ternak yang kulitnya menjadi bahan baku utama; LWG sendiri menyebutnya sebagai isu yang “ada sebelum proses pembuatan kulit dimulai” dan karena itu berada di luar Audit Standard mereka. Celah-celah ini — audit sosial yang belum wajib, dan seluruh tahap pascapenyamakan yang tak tersentuh sama sekali — menciptakan sebuah “titik buta” yang nyata, di mana sebuah merek dapat dengan bangga mempromosikan kulit “bersertifikat LWG” mereka sebagai pilihan yang “sustainable”, padahal klaim tersebut hanya mencakup sebagian kecil dari keseluruhan gambaran etika produksi.

Exhibit 1 Dari empat standar sertifikasi LWG, tidak satu pun menjangkau pabrik garmen kulit atau pekerja rumahan tempat sebagian besar isu perburuhan terjadi
Tahap rantai pasok Siapa yang bekerja di sana Tercakup salah satu dari 4 standar LWG? Catatan
Peternakan & rumah potong hewan Pekerja peternakan, tukang potong Tidak Kesejahteraan hewan eksplisit dikecualikan dari Audit Standard LWG.
Penyamakan kulit (tannery) Pekerja penyamakan Ya — Leather Manufacturer Standard Sejak P7 (2021) ada seksi Audit Sosial, tetapi berstatus non-critical: tidak wajib untuk lulus.
Perdagangan kulit jadi Pedagang, gudang kulit Ya — Leather Trader Standard Tunduk pada persyaratan sosial P7 yang sama.
Pabrik garmen, alas kaki, tas & pekerja rumahan Penjahit, perakit komponen, homeworkers Tidak Di luar definisi “kulit jadi” yang menjadi batas keempat standar LWG.

Sumber: dipetakan dari halaman resmi Leather Working Group — Understanding Certification, Leather Manufacturer Standard, Social Responsibility, dan Animal Welfare (leatherworkinggroup.com, diverifikasi Agustus 2026) — bukan hasil audit atau temuan Hibrkraft sendiri.

Perpustakaan

Tiga panduan, untuk kulit yang lolos audit tapi belum tentu lolos pertanyaan berikutnya

Exhibit 1 di atas memetakan sampai tahap mana keempat standar LWG benar-benar menjangkau — dan berhenti tepat di batas kulit jadi, sebelum kulit itu dijahit menjadi produk. Ketiga panduan ini menjawab apa yang terjadi setelah batas itu: bagaimana sebuah bengkel memutuskan desain sampul, urutan spesifikasi, dan hitung-hitungan kelayakannya untuk lini notebook kulit kustom. Bisa dibaca langsung di peramban, gratis.

Sampul buku Filosofi Desain Notebook Custom, judul emas di atas latar gelap

Panduan desain

Filosofi Desain Notebook Custom

Kenapa logo dikecilkan, garis dimundurkan, dan sampul dibiarkan diam. Penempatan logo, proporsi sampul, dan margin halaman — dengan alasannya, bukan sekadar aturannya.

PDF · A5 · 182 halaman · 1,7 MB

Baca PDF
Sampul buku Panduan Komposisi Notebook Custom, judul emas di atas latar gelap

Panduan spesifikasi

Panduan Komposisi Notebook Custom

Urutan keputusan dari kegunaan sampai kulit, lengkap dengan yang saling melawan. Gramatur kertas, jumlah kuras, ukuran, dan jenis jahitan — dan di mana pilihan satu memotong pilihan lain.

PDF · A5 · 151 halaman · 5,6 MB

Baca PDF
Sampul buku Studi Kelayakan Notebook Custom, judul emas di atas latar gelap

Untuk yang berhitung

Studi Kelayakan Notebook Custom

Kapasitas jam kerja sebagai langit-langit setiap proyeksi. Titik impas, analisis sensitivitas, dan kenapa kerajinan tangan tidak bisa dihitung seperti pabrik.

PDF · A5 · 147 halaman · 2,7 MB

Baca PDF

Berkas terbuka di peramban Anda, tidak langsung terunduh ke penyimpanan. Semuanya berbahasa Indonesia, ukuran A5, dan boleh dicetak untuk keperluan sendiri.

Dua tangan pekerja memegang lembaran kulit basah di ruang kerja penyamakan, salah satu pergelangan mengenakan gelang rajut merah-putih
Tangan pekerja mengolah lembaran kulit basah di ruang produksi

Dampak dari kelalaian ini sangat nyata dan terdokumentasi dengan baik. Sebagai contoh, investigasi-investigasi sebelumnya telah menghubungkan merek-merek besar yang menggunakan kulit bersertifikat LWG dengan isu deforestasi di hutan Amazon. Hal ini terjadi karena sertifikasi LWG lama hanya berfokus pada fasilitas penyamakan, bukan pada asal-usul peternakan sapi. Akibatnya, rantai pasok hulu, di mana perusakan lingkungan masif bisa terjadi, nyaris tidak tersentuh oleh audit — LWG baru mulai mewajibkan penyamak menunjukkan uji tuntas asal-usul kulit dari wilayah berisiko deforestasi tinggi sebagai bagian dari pembaruan protokol yang sedang berjalan, dan keterlacakan hingga ke peternakan individual masih menjadi pekerjaan yang belum selesai. Ini membuktikan bahwa fokus yang terlalu sempit pada satu tahap produksi dapat mengaburkan masalah keberlanjutan yang lebih besar dan lebih merusak. Konsumen yang berniat baik pun pada akhirnya bisa secara tidak sadar mendukung praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka anut, semua karena ilusi yang diciptakan oleh sebuah label sertifikasi yang tidak komprehensif.

Harga yang Dibayar Manusia: Realitas Pekerja di Balik Produk Kulit

Ketiadaan audit sosial dalam rantai pasok kulit membuka pintu bagi berbagai bentuk eksploitasi tenaga kerja yang seringkali tersembunyi dari pandangan konsumen. Di berbagai negara pemasok kulit utama seperti Brazil, Paraguay, dan Vietnam, praktik kerja paksa, termasuk perbudakan modern melalui jeratan utang dan perdagangan manusia, telah dilaporkan terjadi. Rantai pasok yang panjang, rumit, dan kurang transparan menciptakan kondisi ideal bagi praktik-praktik semacam ini untuk berkembang biak. Pekerja dapat direkrut dengan janji palsu, dipaksa bekerja dalam kondisi berbahaya dengan upah sangat rendah, dan dihalangi untuk pergi melalui ancaman atau penyitaan dokumen. Tanpa adanya mekanisme audit sosial yang kuat, perusahaan yang berada di puncak rantai pasok dapat dengan mudah mengabaikan atau tidak menyadari pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di lapisan-lapisan pemasok mereka.

Selain eksploitasi ekonomi, ada pula dampak psikologis yang seringkali diabaikan, terutama bagi mereka yang bekerja di rumah potong hewan. Riset di bidang psikologi kerja telah mendokumentasikan sebuah kondisi yang disebut Perpetration-Induced Traumatic Stress (PITS) — gejalanya dilaporkan tumpang tindih dengan PTSD, meski pemicunya berbeda: bukan dari mengalami kekerasan, melainkan dari berulang kali melakukan tindakan yang menyebabkan penderitaan atau kematian pada makhluk lain, mencakup kecemasan, gejala depresif, penyalahgunaan zat, dan disosiasi dari lingkungan sekitar. Risiko kesehatan kerja di tahap penyamakan itu sendiri — termasuk paparan bahan kimia seperti kromium heksavalen — kami telusuri lebih dalam di Di Balik Sertifikasi LWG: Menyingkap Kondisi Pekerja Industri Kulit yang Terlupakan. Beban mental yang berat ini disebut-sebut menjadi salah satu sebab pekerjaan di rumah potong hewan memiliki tingkat pergantian karyawan yang sangat tinggi. Akibatnya, pekerjaan ini seringkali diisi oleh kelompok-kelompok yang paling rentan dalam masyarakat, seperti pengungsi, imigran, dan individu dari latar belakang sosio-ekonomi rendah, yang memiliki lebih sedikit pilihan pekerjaan dan daya tawar yang lebih lemah.

Kondisi ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat konteks lokal di Indonesia. Meskipun Indonesia memiliki undang-undang ketenagakerjaan yang relatif progresif di atas kertas, implementasinya di lapangan, terutama di sektor kulit dan alas kaki, masih sangat lemah. Salah satu kelompok yang paling rentan adalah para pekerja rumahan atau homeworkers. Mereka adalah bagian integral dari proses produksi, seringkali mengerjakan tugas-tugas seperti menjahit atau merakit komponen. Namun, status mereka yang informal menempatkan mereka dalam “situasi genting tanpa hukum”. Sebagian besar dari mereka tidak memiliki kontrak kerja formal, tidak terdaftar dalam jaminan sosial atau asuransi kesehatan, dan tentu saja tidak memiliki program pensiun. Mereka adalah “pekerja tak terlihat” yang keberadaannya tidak diakui secara resmi, membuat mereka tidak dapat menuntut hak-hak dasar mereka sebagai pekerja.

Pekerja Tak Terlihat: Situasi Pelik di Industri Kulit Indonesia

Kerentanan para pekerja rumahan di Indonesia diperparah oleh sistem upah yang sangat tidak adil. Upah mereka seringkali hanya sebagian kecil dari upah minimum regional yang berlaku. Sistem borongan yang menekan biaya membuat mereka harus bekerja dengan jam yang sangat panjang hanya untuk mendapatkan penghasilan yang pas-pasan, jauh dari kata layak. Fenomena kerja lembur paksa juga umum terjadi. Banyak pekerja yang ditekan untuk bekerja melebihi jam kerja normal tanpa kompensasi yang sesuai, dan mereka yang menolak bisa menghadapi sanksi atau bahkan kehilangan pekerjaan. Bahkan dengan kerja lembur sekalipun, pendapatan total mereka seringkali masih di bawah upah minimum yang ditetapkan pemerintah, membuat mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sulit diputus.

Selain isu upah, hak fundamental pekerja untuk berserikat juga seringkali diberangus. Manajemen pabrik di beberapa lokasi diketahui melakukan intimidasi atau tekanan kepada pekerja agar tidak membentuk serikat pekerja yang independen. Praktik umum lainnya adalah dengan hanya mengizinkan keberadaan “serikat kuning”, yaitu serikat pekerja yang dibentuk atau dikendalikan oleh manajemen itu sendiri. Serikat semacam ini tentu saja tidak akan benar-benar memperjuangkan kepentingan para pekerja, melainkan hanya berfungsi sebagai stempel persetujuan bagi kebijakan perusahaan. Pemberangusan kebebasan berserikat ini secara efektif membungkam suara kolektif pekerja dan melumpuhkan kemampuan mereka untuk bernegosiasi demi kondisi kerja yang lebih baik. Tanpa adanya representasi yang kuat, posisi tawar mereka menjadi sangat lemah di hadapan kekuatan modal.

Kondisi yang tidak teregulasi ini juga membuka kemungkinan terjadinya pekerja anak, terutama di kalangan pekerja rumahan. Karena pekerjaan dilakukan di rumah dan di luar pengawasan formal, sulit untuk memastikan siapa saja yang terlibat dalam proses produksi. Dalam situasi ekonomi yang sulit, bukan tidak mungkin anak-anak dilibatkan untuk membantu orang tua mereka mengejar target produksi. Inilah mengapa filosofi hubungan yang transparan dan menghargai setiap individu menjadi sangat penting. Di Hibrkraft, kami percaya bahwa pengrajin bukanlah sekadar ‘tenaga kerja’, melainkan mitra dalam berkarya. Memahami cerita dan memastikan kesejahteraan mereka adalah bagian tak terpisahkan dari setiap jurnal yang kami ciptakan, sebuah prinsip yang dapat Anda pelajari lebih dalam di laman tentang kami. Ketika sebuah merek hanya bergantung pada sertifikasi pihak ketiga tanpa membangun hubungan langsung, mereka kehilangan kesempatan untuk memahami dan mengatasi realitas kemanusiaan yang kompleks di balik produk mereka.

Pentingnya Transparansi dan Etika dalam Setiap Karya

Kami percaya dialog adalah kunci. Jika Anda ingin berdiskusi lebih dalam tentang praktik etis dalam dunia kerajinan kulit atau ingin menciptakan produk yang sejalan dengan nilai-nilai Anda, kami siap mendengarkan. Mari wujudkan ide Anda bersama.

Konsultasi Sekarang via WhatsApp

Dampak yang Meluas: Ketika Regulasi Lingkungan dan Hewan Gagal Mengimbangi

Masalah tidak berhenti pada tenaga kerja. Kesenjangan antara kebijakan dan implementasi juga terlihat jelas dalam pengelolaan lingkungan di tingkat lokal — sisi lingkungan dari persoalan ini kami bahas tersendiri di Industri Kulit: Menyelami Dampak Lingkungan & Solusi Berkelanjutan. Sebagai contoh, di Kabupaten Garut, yang merupakan salah satu sentra industri penyamakan kulit di Indonesia, telah ada kebijakan pengelolaan lingkungan hidup. Namun, kebijakan ini seringkali tidak didukung oleh peraturan daerah yang spesifik dan mengikat terkait pengolahan limbah. Akibatnya, banyak industri penyamakan kulit skala kecil dan menengah yang membuang limbah cairnya langsung ke sungai tanpa pengolahan yang memadai. Hal ini menciptakan “eksternalitas negatif” yang signifikan, merugikan sektor pertanian karena air irigasi tercemar, mengancam kesehatan masyarakat, dan menyebabkan kerusakan ekosistem sungai secara luas.

Studi kasus di Sungai Gandong, yang melewati wilayah industri penyamakan, menunjukkan kualitas air yang telah melampaui ambang batas baku mutu untuk berbagai parameter pencemaran. Kandungan bahan kimia berbahaya dari proses penyamakan meresap ke dalam lingkungan, meracuni tanah dan air yang menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang. Ini adalah contoh nyata bagaimana regulasi yang ada di tingkat atas menjadi tidak efektif tanpa penegakan hukum yang kuat dan peraturan turunan yang jelas di tingkat daerah. Sebuah sertifikasi lingkungan yang hanya memeriksa pabrik besar sementara mengabaikan dampak kumulatif dari puluhan industri kecil di sekitarnya, jelas gagal menangkap gambaran kerusakan lingkungan yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan pentingnya melihat isu lingkungan sebagai sebuah ekosistem yang saling terhubung, bukan sebagai unit-unit produksi yang terisolasi.

Di sisi lain, kesejahteraan hewan dalam industri ini juga menghadapi tantangan serius akibat kelemahan dalam kerangka hukum — sebuah persoalan yang kami telusuri lebih dalam, termasuk praktik di tingkat peternakan itu sendiri, di LWG dan Kesejahteraan Sapi: Mengapa Sertifikasi Ini Perlu Melebarkan Batasan Etisnya?. Undang-undang di Indonesia yang mengatur kesejahteraan hewan, seperti UU No. 18 Tahun 2009, seringkali dikritik karena memiliki banyak celah, kontradiksi, dan mekanisme penegakan yang lemah. Banyak pasal mengenai kesejahteraan hewan dalam undang-undang tersebut tidak dilengkapi dengan sanksi yang jelas atau prosedur penegakan yang efektif, sehingga kepatuhan seringkali bersifat sporadis dan sukarela. Perlindungan hewan selama proses penyembelihan juga seringkali dibatasi oleh norma-norma agama dan pelaksanaan hari-hari besar keagamaan, di mana jumlah pemotongan hewan meningkat drastis dan pengawasan menjadi lebih sulit. Prioritas legislasi cenderung lebih berat pada aspek ekonomi dan kesehatan masyarakat, seperti mencegah penyebaran penyakit, daripada pada upaya untuk meminimalkan penderitaan hewan itu sendiri.

Menuju Definisi Etis yang Sebenarnya: Apa yang Bisa Dilakukan?

Dari pemaparan di atas, menjadi jelas bahwa definisi produk “etis” atau “berkelanjutan” harus bersifat holistik. Sebuah produk tidak bisa disebut etis jika hanya memenuhi satu kriteria, seperti ramah lingkungan, namun mengorbankan kesejahteraan pekerjanya. Pendekatan yang sesungguhnya harus mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari perlakuan terhadap hewan, dampak terhadap lingkungan di setiap tahap, hingga jaminan hak-hak dan kesejahteraan setiap manusia yang terlibat dalam prosesnya. Bergantung pada sertifikasi tunggal yang memiliki “titik buta” besar adalah sebuah kekeliruan. Diperlukan sebuah pergeseran paradigma, baik dari sisi produsen maupun konsumen, untuk menuntut transparansi yang lebih besar dan tanggung jawab yang lebih luas. Ini adalah bagian dari visi yang lebih besar tentang dunia kerajinan tangan, sebuah pandangan yang kami coba bagikan di Hibrkraft World.

Sebagai konsumen, langkah paling kuat yang bisa kita ambil adalah menjadi lebih kritis dan proaktif. Jangan ragu untuk bertanya kepada merek favorit Anda mengenai rantai pasok mereka. Tanyakan di mana kulit mereka berasal, bagaimana mereka memastikan para pekerja di seluruh rantai pasok mereka diperlakukan dengan adil, dan apa langkah-langkah yang mereka ambil di luar sertifikasi standar. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, konsumen mengirimkan sinyal yang kuat ke pasar bahwa transparansi dan akuntabilitas sosial adalah hal yang penting. Mendukung merek-merek kecil atau pengrajin lokal yang memiliki hubungan langsung dengan sumber bahan baku mereka juga bisa menjadi alternatif yang kuat, karena rantai pasok yang lebih pendek seringkali berarti transparansi yang lebih besar. Dengan demikian, kita bisa membuat pilihan yang lebih terinformasi dan sejalan dengan nilai-nilai kita.

Bagi para produsen dan pemilik merek, langkah pertama adalah mengakui keterbatasan sertifikasi yang ada dan berkomitmen untuk melampauinya. Ini bisa berarti melakukan audit sosial independen terhadap pemasok, membangun hubungan jangka panjang yang didasarkan pada kepercayaan dan keadilan, bukan hanya pada harga terendah. Menerapkan kode etik pemasok yang ketat dan secara aktif memonitor kepatuhannya adalah langkah krusial. Pada akhirnya, menciptakan produk yang benar-benar etis bukanlah tentang mencentang kotak-kotak pada daftar periksa sertifikasi. Ini adalah tentang membangun budaya perusahaan yang menempatkan martabat manusia, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan hewan sebagai inti dari setiap keputusan bisnis. Ini adalah sebuah perjalanan berkelanjutan, sebuah komitmen yang bisa dimulai dari halaman depan situs kami, di mana setiap produk adalah hasil dari proses yang kami pertanggungjawabkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa kelemahan utama sertifikasi kulit seperti LWG?

Sejak 2021, Protokol 7 (P7) LWG memang mencantumkan seksi Audit Sosial — tetapi statusnya masih “non-critical”, artinya bukan syarat wajib untuk lulus sertifikasi, dan dipenuhi lewat sertifikat dari skema pihak ketiga, bukan audit LWG sendiri. Kelemahan yang lebih mendasar: keempat standar sertifikasi LWG berhenti di tahap kulit jadi, sehingga tidak menjangkau pabrik garmen, alas kaki, atau pekerja rumahan yang mengerjakan produk jadi — dan kesejahteraan hewan di peternakan tetap sepenuhnya di luar cakupan audit mereka.

Mengapa audit sosial sangat penting dalam industri kulit?

Audit sosial penting untuk mencegah pelanggaran hak asasi manusia seperti kerja paksa dan upah di bawah standar. Ini juga berfungsi untuk melindungi pekerja rentan, termasuk pekerja rumahan (homeworkers) yang seringkali “tidak terlihat” dalam rantai pasok formal, memastikan mereka mendapatkan kondisi kerja yang aman, upah yang adil, dan hak untuk berserikat.

Bagaimana kondisi pekerja subkontrak (homeworkers) di industri kulit Indonesia?

Kondisi mereka sangat genting dan tidak terlindungi hukum. Banyak dari mereka bekerja tanpa kontrak formal, tidak memiliki akses ke jaminan sosial atau asuransi kesehatan, dan menerima upah yang jauh di bawah upah minimum regional. Mereka juga rentan terhadap lembur paksa dan tidak memiliki daya tawar yang kuat.

Apakah produk kulit bersertifikat LWG pasti bebas dari isu deforestasi?

Tidak sepenuhnya, meski gambarannya membaik. Investigasi-investigasi sebelumnya menunjukkan kulit dari penyamakan bersertifikat LWG bisa berasal dari peternakan yang terkait deforestasi Amazon, karena sertifikasi lama hanya menilai fasilitas penyamakan, bukan asal-usul peternakan. LWG kini mewajibkan penyamak menunjukkan uji tuntas saat mengambil kulit dari wilayah berisiko deforestasi tinggi, dan tengah memperbarui persyaratan ini — tetapi keterlacakan hingga ke peternakan individual masih menjadi pekerjaan yang belum selesai.

Sebagai konsumen, apa yang bisa saya lakukan untuk mendukung industri kulit yang lebih etis?

Anda bisa menjadi konsumen yang lebih kritis. Tanyakan kepada merek tentang transparansi rantai pasok mereka. Cari tahu dari mana bahan baku berasal dan bagaimana mereka memastikan kesejahteraan pekerjanya. Dukung merek yang transparan dan berkomitmen pada praktik etis secara holistik, melampaui sekadar label sertifikasi lingkungan.

Referensi

Rekam Jejak

  • 15 Tahun Berkarya
  • 100.000+ Produk Dibuat
  • 4,9 Rating Google · 85 ulasan
  • 4 Negara UAE · MY · CA · DE
  • 2.000 pcs Kapasitas / Bulan
Dipercaya
Pertamina · POLRI · PPLi · Unilever
Diliput
TVRI · Trans7 · MNC Home Living · iNews Radio
Media Cetak
Tabloid Nova · Bogor Today · Tren Bogor
Penghargaan
Juara UDUNAN 2020 · Ekraf Jabar · Mitra Jabar
Tim Hibrkraft berkumpul di depan bengkel di Bogor
Tim Hibrkraft, Bogor
Unduh Company Profile Hibrkraft PDF · 18 halaman · 15,5 MB

Untuk pengajuan vendor, tender dan kerja sama korporat.