
Di antara jutaan buku yang pernah dicetak, ada beberapa yang bertahan bukan karena ketenaran penulisnya atau pengaruh luas ajarannya, melainkan karena teka-teki yang menyelimutinya. De Gratia et perseverantia Sanctorum (“Tentang Kasih Karunia dan Ketekunan Orang-Orang Kudus”) adalah salah satu contohnya. Muncul dari sebuah percetakan di London pada tahun 1618, buku kecil ini merupakan kapsul waktu yang membawa kita kembali ke era pergolakan intelektual dan religius yang intens. Ia memaksa kita untuk tidak hanya bertanya tentang apa yang tertulis di halamannya, tetapi juga tentang dunia yang melahirkannya: Siapakah “Abas Salisbury” di negara yang telah menghapuskan biara-biara Katolik? Mengapa sebuah risalah teologis dengan tema yang begitu spesifik dicetak? Dan bagaimana artefak kertas yang rapuh ini dapat mengajarkan kita tentang seni dan kerajinan pembuatan buku empat abad yang lalu?
Misteri di Balik Sebuah Judul: Membedah De Gratia et perseverantia Sanctorum
Judul karya ini sendiri sudah merupakan sebuah pernyataan teologis yang kuat. “Tentang Kasih Karunia dan Ketekunan Orang-Orang Kudus” merujuk langsung pada salah satu pilar doktrin Calvinis yang menjadi perdebatan sengit di seluruh Eropa pada awal abad ke-17. Doktrin ini menegaskan bahwa orang-orang pilihan Tuhan, melalui kasih karunia-Nya, akan tekun dalam iman sampai akhir dan tidak akan kehilangan keselamatan mereka. Publikasi sebuah risalah mengenai topik ini di London pada tahun 1618 sangatlah relevan, karena terjadi bersamaan dengan Sinode Dort di Belanda (1618-1619), sebuah pertemuan gerejawi internasional yang bertujuan untuk menyelesaikan kontroversi antara Calvinisme ortodoks dan ajaran pengikut Jacobus Arminius yang menentangnya. Dengan demikian, buku ini bukanlah sekadar teks renungan, melainkan sebuah intervensi dalam debat teologis yang sedang berkecamuk.
Namun, misteri terbesar terletak pada atribusi penulisnya: “Abbas Salisburiensis” atau Abas dari Salisbury. Pada tahun 1618, lebih dari 80 tahun setelah Pembubaran Biara-biara oleh Raja Henry VIII, tidak ada lagi jabatan “Abas” di Salisbury atau di mana pun di Inggris dalam struktur Gereja Anglikan. Katedral Salisbury dipimpin oleh seorang Dekan (Dean), bukan Abas. Hal ini menimbulkan beberapa kemungkinan menarik. Apakah ini sebuah nama samaran (pseudonim) yang digunakan oleh seorang teolog Anglikan untuk menyuarakan pandangan yang berpotensi kontroversial? Ataukah ini karya seorang Katolik Inggris yang tersembunyi (Recusant), yang secara diam-diam menggunakan gelar lama untuk menyiratkan kesetiaan pada iman pra-Reformasi, meskipun isi bukunya tampak sejalan dengan teologi Protestan yang ketat?
Terlepas dari identitas penulisnya, keberadaan buku ini, yang tercatat dalam katalog buku-buku langka seperti English Short-Title Catalogue (ESTC) dengan nomor entri S94883, menegaskan fungsinya sebagai artefak sejarah. Ia adalah bukti fisik dari lanskap percetakan London yang dinamis, di mana ide-ide dapat disebarkan dengan cepat, dan di mana anonimitas serta nama samaran menjadi alat penting bagi para penulis untuk menavigasi iklim politik dan agama yang berbahaya. Setiap halaman dari risalah ini bukan hanya berisi argumen teologis, tetapi juga jejak tersembunyi dari para pengrajin, pencetak, dan pemikir yang membentuknya.
Konteks Sejarah: London Jacobean dan Dunia Percetakan
Untuk memahami mengapa sebuah buku seperti De Gratia bisa muncul, kita harus menyelami London pada masa pemerintahan Raja James I (1603-1625), sebuah periode yang dikenal sebagai era Jacobean. Ini adalah masa transisi yang penuh ketegangan. Meskipun Reformasi Protestan telah mengakar kuat, pertikaian antara berbagai faksi keagamaan terus berlanjut. Gereja Inggris sendiri terpecah antara kelompok Puritan yang lebih radikal, yang bersimpati dengan Calvinisme, dan kelompok yang lebih konservatif atau bahkan Arminian, yang menekankan ritual dan hierarki episkopal. Raja James I sendiri, seorang teolog yang terpelajar, mencoba menyeimbangkan kekuatan-kekuatan ini, tetapi perdebatan sengit sering kali tumpah ke dalam bentuk pamflet dan risalah cetak.
Industri percetakan di London pada saat itu diatur secara ketat oleh Stationers’ Company, sebuah gilda yang diberikan monopoli oleh kerajaan atas penerbitan di Inggris. Setiap buku yang akan dicetak secara teori harus didaftarkan di Stationers’ Register, sebuah langkah yang berfungsi sebagai bentuk hak cipta awal sekaligus alat sensor. Namun, percetakan ilegal dan publikasi anonim atau pseudonim tetap marak, terutama untuk karya-karya yang bersifat politis atau religius yang kontroversial. Pencetak sering kali mengambil risiko besar, karena mencetak materi yang dianggap menghasut atau sesat dapat mengakibatkan denda berat, penyitaan peralatan, atau bahkan hukuman fisik.
Dalam lingkungan inilah De Gratia dicetak. Fakta bahwa ia diterbitkan dalam bahasa Latin, bukan Inggris, menunjukkan bahwa target audiensnya adalah kalangan terpelajar: para pendeta, akademisi, dan teolog di Inggris dan di seluruh Eropa yang mengikuti perdebatan teologis internasional. Penggunaan bahasa Latin juga bisa menjadi strategi untuk menghindari pengawasan yang lebih ketat yang biasanya diterapkan pada teks-teks berbahasa Inggris yang dapat diakses oleh masyarakat umum. Buku ini adalah produk dari ekosistem intelektual yang kompleks, di mana percetakan berfungsi sebagai medan pertempuran ide-ide dan iman.
Setiap buku tua adalah sebuah arsip ganda: ia tidak hanya menyimpan pemikiran yang tertulis di dalamnya, tetapi juga kisah tersembunyi tentang kerajinan, teknologi, dan zaman yang menciptakannya.

Anatomi Buku Abad ke-17: Produksi Fisik De Gratia
Membayangkan produksi buku ini membawa kita ke dalam sebuah bengkel cetak London abad ke-17 yang ramai dan berbau khas. Bau tinta yang terbuat dari jelaga dan minyak biji rami bercampur dengan aroma kertas lembap dan lem hewani. Prosesnya sepenuhnya manual dan membutuhkan kerja tim yang terampil. Pertama adalah kertasnya. Kertas pada masa itu bukan terbuat dari bubur kayu seperti sekarang, melainkan dari serat kain katun dan linen (rag paper). Kertas ini sangat tahan lama, yang menjadi alasan mengapa buku-buku dari periode ini masih bisa bertahan hingga sekarang. Setiap lembaran memiliki tekstur yang khas, sering kali menunjukkan “garis rantai” (chain lines) dan “garis kawat” (wire lines) dari saringan yang digunakan untuk membuatnya, serta mungkin sebuah tanda air (watermark) yang mengidentifikasi pabrik pembuatnya.
Selanjutnya adalah proses pengaturan huruf (typesetting). Seorang penyusun huruf (compositor) akan berdiri di depan sebuah kotak berisi ratusan kompartemen huruf timah individual. Dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa, ia akan mengambil huruf satu per satu dari kotak dan menyusunnya secara terbalik pada sebuah tongkat penyusun (composing stick) untuk membentuk baris-baris teks. Tipografi yang digunakan kemungkinan besar adalah jenis Roman, yang pada awal abad ke-17 mulai menggantikan jenis Gothic atau blackletter yang lebih tua untuk teks-teks ilmiah. Setelah satu halaman penuh selesai disusun, ia akan diikat dengan kuat dan ditempatkan dalam sebuah bingkai logam besar bersama halaman-halaman lainnya untuk membentuk satu “forma” cetak.
Forma ini kemudian diolesi tinta menggunakan bola kulit yang diisi wol, lalu diletakkan di atas mesin cetak kayu (hand press). Selembar kertas yang telah dilembapkan agar lebih menyerap tinta diletakkan di atasnya, dan dengan tenaga manusia yang kuat memutar tuas besar, tekanan diberikan untuk mentransfer gambar tinta ke kertas. Setelah satu sisi dicetak, lembaran itu dijemur sebelum proses diulang untuk sisi sebaliknya. Untuk buku kecil seperti De Gratia, penjilidannya kemungkinan besar sangat sederhana. Ia mungkin tidak memiliki sampul keras (hardcover) yang mewah, melainkan hanya dijahit sebagai pamflet atau dibungkus dengan sampul perkamen (vellum wrapper) atau bahkan kertas tebal yang murah, sebuah praktik umum untuk risalah akademis atau polemik yang tidak dimaksudkan sebagai barang mewah.

Warisan dan Konservasi: Dari Artefak Rapuh ke Arsip Digital
Kelangsungan hidup sebuah buku seperti De Gratia et perseverantia Sanctorum selama lebih dari 400 tahun adalah sebuah keajaiban kecil. Setiap salinan yang ada adalah saksi bisu dari sejarah yang telah dilaluinya: tangan-tangan yang memegangnya, perpustakaan yang menyimpannya, dan ancaman dari kelembapan, serangga, serta kerapuhan kertas itu sendiri. Kelangkaannya—hanya beberapa salinan yang diketahui ada di perpustakaan penelitian di seluruh dunia—menjadikannya objek studi yang berharga bagi sejarawan buku dan pemikir keagamaan. Upaya konservasi buku menjadi sangat penting untuk memastikan artefak-artefak seperti ini dapat terus diakses oleh generasi mendatang.
Di era modern, teknologi digital telah memberikan kehidupan baru pada karya-karya langka ini. Proyek digitalisasi besar seperti Early English Books Online (EEBO) dan Google Books telah memindai jutaan halaman dari buku-buku yang dicetak antara tahun 1473 dan 1700, termasuk kemungkinan salinan dari risalah Abas Salisbury. Hal ini memungkinkan para peneliti dan siapa pun yang penasaran dari seluruh dunia untuk “membuka” dan membaca buku ini secara virtual, mengatasi batasan geografis dan kerapuhan fisik objek aslinya. Digitalisasi tidak menggantikan artefak asli, tetapi ia memperluas akses secara dramatis dan memastikan bahwa isi intelektualnya tidak akan pernah hilang.
Kisah buku ini mengingatkan kita pada kekuatan abadi dari kata-kata yang tertulis. Sama seperti risalah misterius ini yang menjadi wadah bagi perdebatan teologis yang mendalam pada zamannya, setiap buku adalah sebuah upaya untuk mengabadikan pemikiran. Di Hibrkraft, kami percaya pada filosofi yang sama. Setiap jurnal kulit kustom yang kami buat adalah sebuah wadah kosong yang menanti untuk diisi dengan pemikiran, cerita, dan ide-ide berharga dari pemiliknya. Dengan menggunakan material berkualitas dan teknik penjilidan yang teruji oleh waktu, kami menciptakan artefak modern yang dirancang untuk melestarikan warisan pribadi Anda, melanjutkan tradisi panjang dalam menjaga pemikiran manusia yang telah dimulai berabad-abad yang lalu, seperti yang dicontohkan oleh karya Abas Salisbury yang misterius.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa sebenarnya isi dari buku De Gratia et perseverantia Sanctorum?
Buku ini adalah sebuah risalah teologis dalam bahasa Latin yang membahas “Kasih Karunia dan Ketekunan Orang-Orang Kudus.” Ini adalah doktrin inti dalam teologi Calvinis yang menyatakan bahwa orang-orang yang benar-benar diselamatkan oleh Tuhan tidak akan kehilangan keselamatan mereka dan akan terus beriman sampai akhir hayat mereka, berkat kasih karunia Tuhan yang menopang mereka.
Mengapa penulisnya menggunakan nama samaran “Abas Salisbury”?
Ini adalah sebuah teka-teki. Setelah Reformasi Inggris pada abad ke-16, biara-biara Katolik dibubarkan, sehingga tidak ada lagi jabatan “Abas” di Salisbury. Kemungkinan besar ini adalah nama samaran (pseudonim). Alasannya bisa untuk menghindari sensor atau hukuman karena menyebarkan pandangan teologis yang kontroversial, atau mungkin sebagai isyarat simbolis oleh seorang penulis Katolik yang bersembunyi.
Bagaimana buku seperti ini dibuat pada tahun 1618?
Prosesnya sepenuhnya manual. Teks disusun huruf demi huruf menggunakan balok timah (typesetting), dicetak di atas kertas serat kain (rag paper) menggunakan mesin cetak kayu (hand press). Penjilidannya untuk karya akademis atau polemik seperti ini biasanya sederhana, mungkin hanya berupa pamflet yang dijahit atau dibungkus dengan sampul perkamen atau kertas tebal, bukan sampul kulit yang mewah.
Apakah buku ini langka dan berharga?
Ya, buku ini sangat langka. Hanya beberapa salinan yang tercatat ada di perpustakaan penelitian dan universitas di seluruh dunia. Nilainya lebih bersifat historis dan akademis daripada moneter untuk kolektor umum, tetapi bagi sebuah institusi, ia adalah artefak yang tak ternilai untuk memahami sejarah percetakan dan teologi abad ke-17.
Apa hubungan antara buku teologi abad ke-17 dengan jurnal kulit modern?
Hubungannya terletak pada fungsi fundamental mereka sebagai wadah untuk melestarikan pemikiran manusia. Buku Abas Salisbury adalah upaya untuk mengabadikan argumen teologis yang kompleks. Jurnal kulit modern, seperti yang dibuat oleh Hibrkraft, melanjutkan tradisi ini dengan menyediakan media yang tahan lama dan berkualitas tinggi bagi individu untuk mencatat pemikiran, cerita, dan ide-ide pribadi mereka, menciptakan warisan yang dapat bertahan lama.