Naskah kuno adalah produk budaya tak ternilai yang berfungsi sebagai jendela menuju peradaban masa lalu. Di balik setiap lembar lontar, kulit kayu, atau kertas kuno, tersimpan sebuah dunia pengetahuan yang menunggu untuk diungkap. Namun, untuk membaca dan memahami warisan ini secara akurat, diperlukan sebuah disiplin ilmu yang sistematis dan mendalam. Ilmu tersebut adalah filologi, dan salah satu cabangnya yang paling fundamental adalah kodikologi, sebuah bidang studi yang mendedikasikan dirinya untuk meneliti aspek fisik naskah, mengungkap makna budaya dari setiap pilihan material, goresan pena, dan metode penjilidan yang digunakan oleh para leluhur.
Kodikologi: Membedah Anatomi Fisik Naskah Kuno
Filologi, sebagai ilmu yang mempelajari naskah secara menyeluruh, tidak dapat dipisahkan dari kodikologi. Jika filologi secara umum adalah studi tentang “jiwa” sebuah naskah yaitu teks dan isinya, maka kodikologi adalah studi tentang “raga” atau tubuh fisiknya. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan; teks-teks klasik hanya dapat dipahami sepenuhnya melalui manuskrip yang mengabadikannya. Kodikologi meneliti naskah sebagai sebuah artefak, sebuah objek arkeologis yang menceritakan kisahnya sendiri melalui bahan, bentuk, dan cara pembuatannya. Setiap pilihan material mencerminkan adaptasi cerdas terhadap sumber daya alam lokal dan kondisi lingkungan.
Studi kodikologis memungkinkan kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar: Terbuat dari apakah naskah ini? Bagaimana ia dibuat? Kapan dan di mana ia diciptakan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini memberikan konteks yang sangat kaya untuk memahami isi teksnya. Misalnya, mengetahui bahwa sebuah naskah ditulis di atas kertas dluwang yang kuat dan tahan serangga, bukan kertas impor yang rapuh, dapat memberikan petunjuk tentang nilai dan tujuan naskah tersebut bagi komunitas pembuatnya. Demikian pula, bentuk fisik sebuah naskah sering kali berkaitan erat dengan fungsinya.
Di Nusantara, keragaman etnis dan budaya tercermin dengan jelas dalam keragaman fisik naskah-naskahnya. Dari ujung Sumatera hingga Sulawesi, para leluhur mengembangkan teknik dan gaya yang unik, memanfaatkan kekayaan flora dan fauna di sekitar mereka. Mempelajari anatomi fisik naskah-naskah ini membawa kita pada sebuah perjalanan menelusuri kecerdasan ekologis, keterampilan teknis, dan sensibilitas artistik dari berbagai peradaban yang pernah tumbuh subur di kepulauan ini. Ini adalah penghormatan terhadap warisan material yang menjadi fondasi bagi warisan intelektual bangsa.
Lontar: Goresan Abadi di Pelepah Palma
Salah satu bentuk naskah paling ikonik dan tersebar luas di Nusantara adalah lontar. Media tulis ini, yang terutama digunakan di Bali, Jawa, Lombok, dan Sulawesi, terbuat dari daun pohon siwalan atau tal (*Borassus flabellifer*). Proses pembuatannya adalah sebuah seni yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian luar biasa. Daun-daun muda yang masih tergulung dipanen, kemudian direbus dalam air, sering kali dengan tambahan rempah-rempah, untuk menghilangkan getah dan membuatnya lebih awet. Setelah itu, daun-daun tersebut dikeringkan secara perlahan dan dipres agar permukaannya menjadi rata dan kaku.
Proses penulisan di atas lontar sangat berbeda dengan menulis menggunakan tinta. Seorang penulis, yang sering kali merupakan seorang Brahmana di Bali, akan menggunakan alat tajam seperti pisau kecil yang disebut *pena besi* atau *pengutik* untuk menggoreskan aksara ke permukaan daun. Goresan ini pada awalnya hampir tidak terlihat. Untuk membuatnya terbaca, jelaga dari kemiri bakar atau pewarna alami lainnya diusapkan ke seluruh permukaan daun. Partikel hitam ini akan masuk dan menetap di dalam goresan, menciptakan kontras yang tajam dengan warna terang daun. Sisa jelaga kemudian dibersihkan, meninggalkan tulisan yang rapi dan sangat tahan lama.
Secara fisik, naskah lontar terdiri dari tumpukan lembaran-lembaran daun persegi panjang, biasanya antara 50 hingga 200 lembar. Setiap lembar dilubangi di bagian tengah (atau kadang di kedua sisi) dengan lubang yang disebut *geger*. Seutas tali dari katun atau serat palem kemudian dimasukkan melalui lubang-lubang ini untuk menyatukan seluruh tumpukan. Tumpukan daun ini kemudian diapit oleh dua bilah kayu atau bambu sebagai sampul (*cakepan*), yang sering kali dihiasi dengan ukiran-ukiran indah. Menariknya, para ahli percaya bahwa bentuk aksara Brahmik di Asia Tenggara yang cenderung membulat (seperti Aksara Jawa dan Bali) adalah sebuah adaptasi teknis untuk menulis di lontar, karena goresan bersudut tajam akan berisiko merobek serat daun yang rapuh.
Pustaha Laklak: Kitab Lipat dari Kulit Kayu Alim
Bergeser ke Sumatera Utara, kita menemukan bentuk naskah yang sama sekali berbeda dan sangat khas: Pustaha Laklak milik masyarakat Batak. Berbeda dengan lontar yang dijilid dengan tali, pustaha memiliki bentuk concertina atau akordeon (*lipat-lipat*). Media utamanya adalah *laklak*, yaitu kulit bagian dalam dari pohon alim (*Aquilaria malaccensis*), pohon yang juga dikenal sebagai penghasil gaharu. Proses persiapannya juga unik; kulit kayu direndam dalam air cucian beras, dipukul-pukul hingga tipis dan rata, kemudian dikeringkan dan dihaluskan permukaannya.
Lembaran kulit kayu yang panjang ini kemudian dilipat-lipat membentuk sebuah buku akordeon. Ujung-ujungnya dilekatkan pada dua buah sampul kayu yang disebut *lampak*. Sampul ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tetapi juga sebagai medium artistik, sering kali dihiasi dengan ukiran motif cicak (*Boraspati*), dewa bumi yang dianggap membawa kebaikan. Tidak ada proses penjahitan dalam pembuatan pustaha, menjadikannya sebuah bentuk penjilidan yang sangat unik di dunia. Bentuk yang ringkas dan portabel ini sangat sesuai dengan fungsinya sebagai kitab panduan para *datu* (dukun atau ahli spiritual).
Untuk menulis di atas permukaan kulit kayu, digunakan pena yang terbuat dari ranting (*tarugi*), lidi aren (*suligi*), atau bahkan tanduk kerbau. Tinta tradisionalnya dibuat dari campuran getah bambu atau jeruk dengan arang, terutama arang dari kemiri yang dikenal menghasilkan warna hitam pekat dan tahan lama. Sama seperti para leluhur yang memilih dan mengolah bahan terbaik untuk mengabadikan pengetahuan, semangat ketelitian inilah yang kami di Hibrkraft tuangkan dalam setiap jahitan buku catatan kustom kami, menciptakan wadah yang layak untuk pemikiran dan warisan pribadi Anda.
Dluwang, Bambu, dan Tulang: Ragam Inovasi Media Tulis
Selain lontar dan pustaha, tradisi tulis Nusantara mengenal berbagai media lain yang menunjukkan tingkat inovasi yang tinggi. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura, dikenal kertas dluwang (atau daluang). Ini adalah sejenis kertas kuno yang dibuat dari kulit pohon murbei kertas (*Broussonetia papyrifera*). Prosesnya melibatkan perendaman dan pemukulan kulit kayu hingga menjadi bubur pulp, yang kemudian dikeringkan menjadi lembaran-lembaran kertas. Kertas dluwang dikenal lebih kuat, fleksibel, dan tahan serangga dibandingkan kertas impor pada masanya.
Dari segi bentuk, naskah dluwang sangat berbeda dari lontar atau pustaha. Ia mengadopsi gaya kodeks, yaitu bentuk buku yang kita kenal sekarang. Lembaran-lembaran dluwang dilipat menjadi beberapa kuras (*quire*), yang kemudian ditumpuk dan dijahit dengan benang di sepanjang bagian punggungnya. Sampulnya biasanya terbuat dari kulit atau kain, dan sering kali menampilkan gaya penjilidan Islam dengan adanya lidah penutup (*tutup amplop*) yang berfungsi untuk melindungi tepi buku. Bentuk ini menjadi jembatan antara tradisi pra-Islam dan pengaruh budaya Islam yang datang kemudian.
Inovasi tidak berhenti di situ. Masyarakat Batak juga menggunakan bambu dan tulang kerbau sebagai media tulis. Bambu, setelah diawetkan dengan cara direbus, digunakan untuk teks-teks yang lebih pendek seperti kalender, mantra, atau surat. Tulang kerbau, seperti tulang iga dan belikat, dibersihkan dan dihaluskan untuk kemudian diukir dengan tulisan menggunakan kawat baja. Media-media ini, meskipun kapasitasnya terbatas, menunjukkan bahwa tidak ada bahan yang terbuang; setiap bagian dari alam dapat diubah menjadi wadah untuk pengetahuan.
Aspek Kodikologis | Lontar | Pustaha Laklak (Batak) | Dluwang |
---|---|---|---|
Bahan Utama | Daun pohon Siwalan/Tal (*Borassus flabellifer*). | Kulit bagian dalam pohon Alim/Gaharu (*Aquilaria malaccensis*). | Kertas dari kulit pohon Murbei Kertas (*Broussonetia papyrifera*). |
Proses Persiapan | Direbus, dikeringkan, dipres, dan dihaluskan. | Direndam air beras, dipukul, dikeringkan, dan dihaluskan. | Dipukul menjadi pulp, dicetak, dan dikeringkan menjadi lembaran. |
Alat Tulis & Tinta | Pisau ukir (*pengutik*) & tinta jelaga kemiri. | Pena dari ranting/ijuk & tinta getah campur arang. | Pena (kalam) & berbagai jenis tinta. |
Bentuk Jilid | Lembaran ditumpuk, dilubangi, dan diikat dengan tali. | Satu lembaran panjang dilipat seperti akordeon (concertina). | Lembaran dilipat, disusun dalam kuras, dan dijahit di punggung (kodeks). |
Sampul Khas | Kayu atau bambu berukir (*cakepan*). | Kayu berukir (*lampak*), sering dengan motif cicak. | Kulit atau kain, sering dengan lidah penutup (*tutup amplop*). |
Tantangan Material: Pelestarian Fisik Naskah di Iklim Tropis
Meskipun dibuat dengan teknik yang canggih pada masanya, naskah-naskah kuno Nusantara yang terbuat dari bahan organik menghadapi tantangan pelestarian yang sangat besar. Musuh utama dari warisan budaya ini adalah iklim tropis Indonesia itu sendiri. Tingkat kelembaban yang tinggi sepanjang tahun menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan jamur dan lumut, yang dapat merusak serat-serat daun, kulit kayu, dan kertas secara permanen. Noda-noda coklat atau hitam pada naskah sering kali merupakan tanda kerusakan akibat mikroorganisme ini.
Selain kelembaban, serangga juga menjadi ancaman serius. Rayap, kutu buku, dan berbagai jenis kumbang dapat melubangi dan menggerogoti naskah, mengubah lembaran-lembaran berharga menjadi serpihan yang rapuh. Inilah sebabnya mengapa proses persiapan bahan di masa lalu, seperti merebus lontar dengan rempah-rempah atau mengawetkan bambu, sering kali bertujuan untuk membuatnya lebih tahan terhadap serangan hama. Namun, seiring berjalannya waktu, perlindungan alami ini dapat memudar, membuat naskah menjadi rentan jika tidak disimpan dengan benar.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah tantangan dari alam dan manusia. Bencana alam seperti banjir dan kebakaran telah memusnahkan banyak koleksi naskah sepanjang sejarah, yang menjadi salah satu alasan mengapa tradisi lisan juga berkembang sangat kuat di Nusantara. Di sisi lain, penanganan yang salah oleh manusia, penyimpanan di tempat yang lembab atau terkena sinar matahari langsung, serta proses reproduksi komersial yang tidak mengikuti kaidah filologis yang benar, juga dapat mempercepat kerusakan. Upaya pelestarian modern, termasuk kontrol suhu dan kelembaban serta digitalisasi, menjadi sangat krusial untuk memastikan “raga” dari naskah-naskah ini dapat bertahan untuk dipelajari oleh generasi mendatang.
Faktor Utama Kerentanan Fisik Naskah Organik di Iklim Tropis
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa itu kodikologi?
Kodikologi adalah cabang dari ilmu filologi yang secara khusus mempelajari aspek-aspek fisik dari sebuah naskah kuno. Ini mencakup studi tentang bahan (seperti lontar, kulit kayu, dluwang), bentuk penjilidan, alat tulis, tinta, dan semua karakteristik material lainnya dari naskah sebagai sebuah objek.
Mengapa daun lontar harus direbus sebelum ditulis?
Daun lontar direbus untuk beberapa tujuan penting. Proses ini membantu menghilangkan getah alami dan kotoran dari daun, membuatnya lebih bersih dan tidak lengket. Perebusan juga membuat struktur serat daun menjadi lebih stabil dan awet, serta lebih tahan terhadap serangan serangga dan jamur di kemudian hari.
Apa yang membuat penjilidan Pustaha Batak unik?
Keunikan penjilidan Pustaha Batak terletak pada bentuknya yang menyerupai akordeon atau concertina (*lipat-lipat*). Naskah ini terbuat dari satu lembaran panjang kulit kayu yang dilipat-lipat, bukan dari tumpukan lembaran yang dijahit atau diikat. Ujung-ujungnya kemudian dilekatkan pada sampul kayu (*lampak*), tanpa menggunakan benang sama sekali.
Apa itu kertas dluwang dan apa kelebihannya?
Dluwang adalah sejenis kertas tradisional Indonesia yang terbuat dari kulit pohon murbei kertas (*Broussonetia papyrifera*). Kelebihannya dibandingkan kertas impor pada masanya adalah ia lebih kuat, lebih fleksibel, dan secara alami lebih tahan terhadap serangan serangga, menjadikannya media tulis yang sangat awet.
Mengapa banyak aksara kuno di Indonesia berbentuk bulat?
Banyak ahli percaya bahwa bentuk aksara yang membulat dan kursif (seperti Aksara Jawa dan Bali) merupakan sebuah adaptasi teknis terhadap media tulis yang paling umum, yaitu daun lontar. Menulis di atas lontar menggunakan pisau tajam (pengutik). Goresan yang lurus dan bersudut tajam akan berisiko tinggi merobek atau membelah serat daun. Oleh karena itu, bentuk huruf yang melengkung dan membulat berkembang sebagai cara yang lebih aman dan efektif untuk menulis di atas media tersebut.
Referensi
- Karakteristik Naskah Batak – ResearchGate
- Lontar – Wikipedia
- Peran Filologi dalam Upaya Menemukan Jati Diri Bangsa – Jurnal Manuskripta
- Batak manuscripts in the British Library – British Library Blogs
- Dluwang, Kertas Nusantara yang Terlupakan – Deutsche Welle (DW)

Custom Notebook
Craft your narrative with materials steeped in tradition. Inspired by the rich codicology of Indonesia’s ancient manuscripts, create a unique notebook that celebrates heritage and your personal touch.
Rangkai narasi Anda dengan material yang kaya tradisi. Terinspirasi dari kodikologi naskah kuno Indonesia yang kaya, ciptakan buku catatan unik yang merayakan warisan dan sentuhan pribadi Anda.

Business & Whitelabel
Elevate your brand with exquisite craftsmanship rooted in ancient codicology. We offer premium business solutions and whitelabel products inspired by Indonesia’s diverse manuscript materials, exuding timeless quality and heritage.
Tingkatkan merek Anda dengan keahlian indah yang berakar pada kodikologi kuno. Kami menawarkan solusi bisnis premium dan produk whitelabel yang terinspirasi dari beragam material naskah Indonesia, memancarkan kualitas dan warisan abadi.

Book Repair & Conservation
Safeguard invaluable cultural heritage with expert codicological precision. We meticulously restore delicate manuscripts, applying specialized knowledge of materials and forms to preserve the integrity of Indonesia’s ancient written treasures.
Lindungi warisan budaya tak ternilai dengan presisi kodikologis ahli. Layanan kami secara cermat memulihkan naskah halus, menerapkan pengetahuan khusus tentang material dan bentuk untuk menjaga integritas harta tertulis kuno Indonesia.