Dari Riuh Bengkel ke Hening Hutan: Kisah Seorang Perajin Kulit
Jika foto sebelumnya memperlihatkan seorang perajin di tengah ekosistem kerjanya, maka unggahan ini membawa kita ke ruang yang sama sekali berbeda: sumber inspirasi itu sendiri. Wulan Purnamasari dari _soldate_leather sekali lagi berbagi sebuah momen, kali ini jauh dari riuh bengkel dan hiruk pikuk produksi.
Duduk di atas bangku kayu yang rustic, di tengah keteduhan hutan yang berkabut, ia tampak begitu damai dan fokus. Perhatiannya tercurah pada jurnal kulit di tangannya. Ini lebih dari sekadar seseorang yang membaca buku di alam terbuka. Ini adalah seorang perajin kulit dari Magetan—jantung industri kulit Indonesia—yang memilih untuk membawa sebuah produk kulit kembali ke habitat aslinya, ke alam.
Ada sebuah keutuhan yang puitis dalam gambar ini. Sepatu kulitnya yang serasi, bangku kayu yang kokoh, dan jurnal kulit di tangannya berpadu sempurna dengan latar pepohonan yang menjulang tinggi. Ini adalah sebuah pengingat bahwa material yang kami gunakan berasal dari alam, dan di sanalah ia menemukan ketenangan tertingginya. Jurnal ini bukan lagi sekadar alat tulis, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan dunia kriya dengan dunia kontemplasi.
Mungkin ia sedang merancang ide baru, menuliskan strategi bisnis, atau sekadar membiarkan pikirannya mengalir bebas, jauh dari tuntutan sehari-hari. Bagaimanapun, pemandangan ini adalah validasi terkuat bagi kami. Ketika seorang ahli di bidangnya, yang hidup dan bernapas dalam dunia perkulitan, menemukan ketenangan dan kegunaan dalam produk kami, kami tahu kami telah melakukan sesuatu dengan benar.
Terima kasih, Wulan, telah membawa jurnal kami ke tempat di mana ide-ide besar lahir. Anda telah melukiskan dengan indah bagaimana sebuah produk buatan tangan menjadi pendamping setia, baik di meja kerja maupun di keheningan hutan.