Rumah Itu Bukan Bangunan. Rumah Adalah Perasaan.
Lihat foto ini. Dan bacalah lokasinya: “My Home.” Rumahku. Tapi di sana tidak ada tembok, tidak ada atap. Yang ada hanya danau yang tenang, perbukitan yang membiru di kejauhan, dan seorang nelayan di atas rakitnya yang sederhana. Ini adalah foto dari seorang petualang sejati, Kenedhy (@kenedhykinsyafman).
Dan ini adalah salah satu foto paling penting yang pernah kami terima. Karena ini mengingatkan kami untuk siapa sebenarnya kami membuat produk-produk ini.
Sebuah Jurnal untuk Suku yang Sama
Kami bertemu Kenedhy di Salam Risgabo, sebuah komunitas pecinta alam yang membentuk kami. Ini bukan pertemuan bisnis. Ini adalah pertemuan dua ruh dari suku yang sama. Suku yang percaya bahwa petualangan adalah guru terbaik dan alam adalah rumah termegah.
Jadi, ketika seorang petualang sejati memilih jurnal kami untuk menemaninya pulang ke ‘rumahnya’, itu bukan sekadar pembelian. Itu adalah sebuah pengakuan. Sebuah pemahaman bahwa benda ini dibuat untuk bertahan. Dibuat untuk menghadapi alam.

Teman Seperjalanan yang Sunyi
Lihat jurnal di tangannya. Kombinasi kulit hitam dan cokelat, seperti tanah basah dan bayangan pepohonan. Jahitan tangannya yang kokoh bukan sekadar hiasan; itu adalah janji kekuatan. Ia tidak terlihat canggung di pemandangan itu. Justru sebaliknya, ia terlihat seperti bagian dari ekosistem.
Aku ngerasa, jurnal ini tidak akan diisi dengan jadwal rapat atau daftar belanja. Ia akan diisi dengan hal-hal lain. Mungkin sketsa pemandangan. Mungkin catatan tentang arah angin. Mungkin puisi yang lahir dari keheningan danau di pagi hari.
Ada rumah yang punya dinding. Ada juga rumah yang hanya punya cakrawala.
Melihat jurnal kami berada di ‘rumahnya’ Kenedhy, dipegang dengan latar belakang yang begitu luas dan tenang, adalah kehormatan tertinggi. Ini adalah bukti bahwa kami tidak hanya membuat aksesori. Kami membuat alat. Kami membuat teman seperjalanan yang bisa diandalkan.
Petualanganmu memanggil. Siapkan teman perjalananmu.