Industri kulit dan alas kaki Indonesia pada tahun 2024 menunjukkan sebuah narasi yang kompleks namun penuh harapan. Di satu sisi, data ekspor menunjukkan pemulihan yang kuat setelah tahun 2023 yang penuh tantangan, dengan lonjakan volume dan nilai yang didorong oleh komoditas seperti kulit awetan. Di sisi lain, industri ini masih berjuang dengan isu-isu struktural yang kronis: ketergantungan pada bahan baku impor, praktik UKM yang tradisional, dan hambatan birokrasi. Artikel ini akan membedah secara mendalam data kinerja ekspor 2024, menganalisis tantangan yang ada, dan memetakan peluang strategis—mulai dari perjanjian dagang internasional hingga pergeseran tren konsumen domestik—yang akan menentukan masa depan industri vital ini.

Babak Baru Industri Kulit dan Alas Kaki Indonesia di 2024
Setelah melewati tahun 2023 yang penuh dengan tantangan dan penurunan, industri kulit dan alas kaki Indonesia memasuki tahun 2024 dengan napas baru yang lebih optimis. Sektor yang menjadi salah satu pilar utama manufaktur dan ekspor nasional ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan, sebuah bukti dari resiliensi para pelaku usaha dan efektivitas beberapa kebijakan strategis. Namun, di balik angka-angka pertumbuhan yang menggembirakan, terdapat sebuah realitas yang lebih kompleks. Industri ini berada di persimpangan jalan, dihadapkan pada peluang besar sekaligus tantangan struktural yang memerlukan perhatian serius untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan di masa depan.
Kinerja Ekspor 2024: Sebuah Kisah Pemulihan
Data kinerja ekspor menjadi barometer paling akurat untuk mengukur kesehatan industri. Pada tahun 2024, angka-angka menunjukkan sebuah pembalikan tren yang sangat dibutuhkan. Secara keseluruhan, volume ekspor industri kulit dan alas kaki berhasil mencapai 455.950 ton, menandai lonjakan yang impresif sekitar 21% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Dari sisi nilai, peningkatannya juga positif, mencapai US$8,36 miliar atau tumbuh sekitar 10% (yoy). Angka ini menandakan bahwa pasar global mulai kembali bergairah dan produk Indonesia mampu merebut kembali sebagian pangsa pasarnya.
Jika kita melihat lebih dekat pada kinerja kuartalan, optimisme ini semakin terkonfirmasi. Pada kuartal pertama tahun 2024, industri alas kaki secara spesifik tumbuh sebesar 5,90% (YoY), memberikan kontribusi positif yang nyata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Ini adalah sebuah perbaikan dramatis dari kontraksi sebesar -2,75% pada periode yang sama tahun lalu. Meskipun pertumbuhan nilai ekspor gabungan untuk sektor kulit dan alas kaki pada Q1 2024 lebih moderat di angka 0,95%, penurunan impor sebesar 1,38% pada periode yang sama menunjukkan adanya potensi penguatan pasar domestik dan efisiensi penggunaan bahan baku.
Bintang Panggung Ekspor: Komoditas Unggulan
Kunci dari pemulihan ini terletak pada kinerja luar biasa dari beberapa komoditas spesifik. Analisis mendalam terhadap nilai ekspor menunjukkan bahwa tidak semua produk kulit bernasib sama. Bintang utamanya adalah kulit awetan (preserved leather), yang mengalami pertumbuhan nilai ekspor yang fenomenal sebesar 117,90% (yoy). Lonjakan ini mengindikasikan adanya peningkatan permintaan global untuk kulit olahan dari Indonesia yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan kulit mentah.
Komoditas lain juga menunjukkan performa yang solid, menandakan diversifikasi kekuatan ekspor Indonesia. Berikut adalah rinciannya:
Komoditas | Pertumbuhan Nilai Ekspor (2024, yoy) | Analisis dan Potensi |
---|---|---|
Kulit Awetan | + 117,90% | Permintaan tinggi untuk kulit olahan berkualitas. Menunjukkan pergeseran dari ekspor bahan mentah ke produk bernilai tambah. |
Sepatu Teknik Industri/Lapangan | + 35,15% | Pasar khusus (niche market) yang kuat untuk sepatu keselamatan dan kerja, menandakan keunggulan Indonesia dalam produk fungsional. |
Barang dari Kulit/Kulit Komposisi | + 14,51% | Pertumbuhan solid untuk produk jadi seperti tas, dompet, dan aksesoris, menunjukkan peningkatan kapasitas desain dan produksi. |
Alas Kaki Sehari-hari | + 10,57% | Pasar massal yang pulih, menunjukkan kembalinya permintaan konsumen global secara umum. |
Sepatu Olahraga | + 9,26% | Mulai pulih setelah penurunan tajam di 2023. Masih menjadi tulang punggung ekspor, meskipun pertumbuhannya lebih moderat. |
Kulit Samak (Tanned Leather) | – 5,78% | Satu-satunya yang mengalami penurunan, mungkin disebabkan oleh persaingan harga global atau pergeseran permintaan ke jenis kulit yang berbeda. |
Data ini memberikan gambaran yang jelas: kekuatan ekspor Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada sepatu olahraga, tetapi mulai terdiversifikasi ke produk-produk kulit dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan sepatu-sepatu fungsional untuk pasar spesifik.
Pentingnya Industri bagi Perekonomian dan Gelombang Investasi Baru
Kinerja industri kulit dan alas kaki tidak bisa dipandang sebelah mata. Sektor manufaktur secara keseluruhan adalah tulang punggung perekonomian Indonesia, menyumbang 71,55% dari total ekspor domestik dari Januari hingga Agustus 2022 dan secara konsisten menjaga surplus neraca perdagangan selama puluhan bulan berturut-turut. Di dalam sektor manufaktur ini, industri kulit, barang jadi kulit, dan alas kaki secara konsisten menjadi salah satu dari tiga penampil terbaik, dengan pertumbuhan mencapai 13,12% pada kuartal kedua 2022.
Posisi Indonesia sebagai produsen sepatu terbesar keenam di dunia bukanlah status yang main-main. Di balik peringkat ini ada jutaan lapangan kerja dan ekosistem bisnis yang luas. Pertumbuhan yang diantisipasi pada tahun 2024 sangat terkait erat dengan gelombang investasi baru yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap masa depan industri ini. Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan bahwa antara Januari dan September 2023, total investasi di sektor ini mencapai Rp 1,1 triliun dari investor domestik dan USD 574,3 juta dari investor asing. Arus modal ini adalah bahan bakar yang akan mendorong ekspansi pabrik, modernisasi teknologi, dan penciptaan lapangan kerja baru.
Pemerintah sendiri telah menegaskan komitmennya dengan menempatkan industri kulit dan alas kaki sebagai “Industri Berorientasi Ekspor Padat Karya” dan menjadi sektor prioritas untuk investasi dalam buku panduan “Indonesia Investment Guidebook”. Dengan proyeksi pasar alas kaki domestik saja yang diperkirakan akan mencapai USD 5,49 miliar pada tahun 2024, potensi pasar yang bisa digarap, baik domestik maupun internasional, masih sangat besar.
Di Balik Angka: Tantangan Struktural yang Menjadi Pekerjaan Rumah
Meskipun angka pertumbuhan di tahun 2024 memberikan angin segar, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan fundamental yang telah berlangsung lama. Mengatasi masalah-masalah ini adalah kunci untuk mengubah pertumbuhan saat ini menjadi sebuah fondasi yang kokoh untuk jangka panjang.
1. Dilema Bahan Baku: Bergantung pada Impor
Ini adalah tantangan paling krusial dan ironis. Sebagai negara agraris dengan populasi ternak yang besar, Indonesia seharusnya mampu mandiri dalam penyediaan bahan baku kulit. Namun, kenyataannya jauh dari itu. Industri pendukung (supporting industry) di hulu masih belum berkembang dengan baik. Akibatnya, pemasok kulit mentah seringkali lebih memilih untuk mengekspor produk mentah mereka untuk mendapatkan harga yang lebih baik, daripada menjualnya ke pengolah domestik. Hal ini menciptakan kelangkaan pasokan di dalam negeri.
Data menunjukkan bahwa produksi kulit domestik hanya mampu memenuhi sekitar 35% dari kebutuhan nasional. Sisa 65% harus ditutupi oleh impor. Ketergantungan ini menciptakan efek domino yang merugikan:
- Peningkatan Biaya Produksi: Impor berarti biaya tambahan untuk logistik, tarif, dan fluktuasi nilai tukar, yang secara langsung menggerus margin keuntungan produsen.
- Penurunan Daya Saing: Biaya produksi yang lebih tinggi membuat harga jual produk akhir Indonesia menjadi kurang kompetitif di pasar global dibandingkan dengan negara-rata seperti Vietnam yang memiliki rantai pasok lebih efisien.
- Kerentanan Rantai Pasok: Ketergantungan pada impor membuat industri ini rentan terhadap guncangan eksternal, seperti kebijakan perdagangan negara lain atau krisis logistik global.
2. Praktik Tradisional dan Kurangnya Inovasi di Tingkat UKM
Sementara pabrik-pabrik besar mungkin telah mengadopsi teknologi modern, sebagian besar ekosistem industri ini masih ditopang oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Banyak dari UKM ini, seperti yang dapat ditemui di sentra kerajinan kulit Manding, Yogyakarta, masih terperangkap dalam praktik-praktik tradisional. Karakteristiknya meliputi proses manufaktur yang sudah tua, manajemen yang bersifat kekeluargaan dan kurang profesional, produktivitas tenaga kerja yang rendah, sistem informasi yang minim, serta rendahnya adopsi teknologi dan pengembangan produk baru. Faktor-faktor ini secara serius menghambat kemampuan mereka untuk bersaing, baik dari segi kualitas, efisiensi, maupun desain.
3. Hambatan Birokrasi dan Perizinan
Tantangan klasik yang terus menghantui dunia usaha di Indonesia adalah birokrasi yang berbelit. Dalam industri ini, hambatan seringkali muncul dalam hal pengadaan lahan dan perizinan yang memakan waktu lama. Keterlambatan dalam perizinan dapat secara signifikan meningkatkan biaya investasi dan operasional, yang pada gilirannya menghambat penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan yang lebih pesat. Transisi ke sistem perizinan bangunan yang baru, seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF), dilaporkan telah menambah lapisan kompleksitas dan biaya bagi para investor.
4. Persaingan Global dan Dampak Jangka Panjang Pandemi
Pasar global tidak pernah diam. Persaingan semakin ketat, dan selera pasar terus berubah. Penutupan pabrik PT Sepatu Bata Tbk pada bulan April 2024 menjadi sebuah pengingat yang menyakitkan tentang betapa beratnya tantangan ini. Perusahaan legendaris ini terpaksa menyerah pada tekanan persaingan global yang intens dan pergeseran permintaan pasar. Pandemi COVID-19 juga meninggalkan luka jangka panjang bagi beberapa perusahaan. Output produksi Bata, misalnya, anjlok hingga 60% pada tahun 2020, yang berujung pada penurunan penjualan dan kerugian kumulatif yang akhirnya memaksa penutupan pabrik.
Peta Jalan Menuju Masa Depan: Strategi dan Peluang
Di tengah tantangan yang ada, secercah harapan datang dari berbagai inisiatif strategis dan peluang baru yang muncul. Ini adalah jalan yang dapat ditempuh industri untuk memperkuat posisinya.
- Inisiatif Pemerintah: Pemerintah terus berupaya untuk memperbaiki iklim bisnis melalui reformasi kebijakan. Undang-Undang Cipta Kerja, meskipun kontroversial, diharapkan dapat menyederhanakan perizinan dan mendorong investasi. Selain itu, ada upaya aktif untuk melakukan diversifikasi pasar ekspor, mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, dan menjajaki pasar-pasar baru yang potensial.
- Perjanjian Dagang Internasional: Perundingan untuk Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) terus berjalan. Jika berhasil disepakati, perjanjian ini berpotensi membuka pasar Uni Eropa secara signifikan bagi produk alas kaki Indonesia dengan menghilangkan atau mengurangi tarif masuk. Ini akan menjadi game-changer yang sangat besar bagi daya saing produk Indonesia di Eropa.
- Kebangkitan Pasar Domestik dan Tren Konsumen Baru: Jangan lupakan kekuatan pasar dalam negeri. Tumbuhnya kelas menengah, meningkatnya kesadaran akan produk lokal (didorong oleh kampanye seperti “Bangga Buatan Indonesia”), dan preferensi konsumen yang bergeser ke arah produk yang ramah lingkungan (eco-friendly) membuka peluang pasar baru yang sangat besar. Ini adalah kesempatan emas bagi UKM untuk berinovasi dan merebut hati konsumen domestik.
- Strategi Peningkatan Daya Saing UKM: Untuk bisa bertahan dan berkembang, UKM didorong untuk mengadopsi strategi inovasi. Ini termasuk memanfaatkan teknologi informasi untuk efisiensi, berpartisipasi dalam jaringan dan kerja sama antar perusahaan, serta memanfaatkan klaster industri geografis untuk transfer pengetahuan dan teknologi.
Kesimpulannya, industri kulit dan alas kaki Indonesia berada di sebuah momen yang sangat menentukan. Pemulihan di tahun 2024 adalah fondasi yang baik, namun pekerjaan rumah untuk mengatasi masalah bahan baku, modernisasi UKM, dan efisiensi birokrasi masih sangat banyak. Dengan langkah strategis yang tepat, dukungan pemerintah yang konsisten, dan kemampuan para pelaku usaha untuk berinovasi, industri ini memiliki semua potensi untuk tidak hanya bertahan, tetapi untuk melompat lebih tinggi di panggung global.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Mengapa kinerja ekspor bisa pulih di 2024 padahal ada banyak masalah seperti bahan baku?
Pemulihan ini disebabkan oleh beberapa faktor gabungan. Pertama, permintaan pasar global yang mulai normal kembali setelah perlambatan di 2023. Kedua, adanya diversifikasi produk, di mana komoditas bernilai tambah tinggi seperti kulit awetan menunjukkan pertumbuhan luar biasa. Ketiga, upaya pemerintah dan pelaku usaha untuk mencari pasar baru. Meskipun masalah bahan baku masih ada, permintaan yang kuat mampu mendorong pertumbuhan nilai dan volume ekspor secara keseluruhan.
Apa itu IEU-CEPA dan mengapa sangat penting bagi industri alas kaki?
IEU-CEPA adalah perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Eropa. Ini sangat penting karena Uni Eropa adalah salah satu pasar terbesar untuk produk alas kaki. Saat ini, produk dari Indonesia dikenai tarif masuk yang membuatnya lebih mahal dibandingkan produk dari negara seperti Vietnam yang sudah memiliki perjanjian serupa. Jika IEU-CEPA disepakati, tarif ini bisa dihilangkan, membuat harga produk Indonesia jauh lebih kompetitif dan berpotensi meningkatkan ekspor secara drastis.
Sebagai konsumen, apa yang bisa dilakukan untuk mendukung industri ini?
Mendukung industri ini bisa dimulai dengan hal sederhana: membeli dan menggunakan produk-produk lokal. Dengan meningkatnya kesadaran dan kebanggaan terhadap merek dalam negeri, permintaan domestik akan meningkat. Ini akan membantu UKM untuk tumbuh, menciptakan lapangan kerja, dan pada akhirnya mengurangi ketergantungan industri pada pasar ekspor yang fluktuatif.
Apa tantangan terbesar bagi seseorang yang ingin memulai bisnis UKM di bidang kulit saat ini?
Tantangan terbesarnya adalah akses terhadap bahan baku kulit berkualitas dengan harga yang kompetitif. Karena sebagian besar bahan baku harus diimpor, UKM baru akan kesulitan bersaing harga dengan pemain besar. Selain itu, tantangan lainnya adalah menembus pasar dengan desain yang inovatif dan membangun merek yang kuat di tengah persaingan yang ketat.
Referensi
- Antara News – Leather, footwear industry posts 5.90 percent YoY growth in Q1
- Kementerian Perindustrian RI – Industri Manufaktur Konsisten Sumbang Surplus Neraca Perdagangan
- Statista – Footwear Market in Indonesia
- The Jakarta Post – Bata’s Indonesia factory closure a warning for other manufacturers
- International Trade Administration – Indonesia – Country Commercial Guide (Footwear)