Bagi sebagian orang, jalan menuju dunia kewirausahaan dihamparkan oleh serangkaian pilihan sadar. Mereka memiliki kebebasan finansial atau karier yang stabil, namun memilih untuk melompat ke dunia bisnis demi mengejar sebuah visi atau gairah. Namun, bagi sebagian lainnya, berbisnis bukanlah sebuah pilihan di atas menu kehidupan; ia adalah sebuah keharusan, insting dasar untuk bertahan hidup ketika pintu-pintu lain tertutup rapat. Akan tetapi, terlepas dari apakah bisnis itu lahir dari privilese sebuah pilihan atau keterdesakan sebuah kondisi, setiap entitas usaha selalu dimulai dengan satu benih yang sama: tujuan.
Ironisnya, tujuan ini seringkali menjadi misteri, bahkan bagi sang pendiri itu sendiri. Saat dihadapkan pada mikrofon wartawan atau tatapan tajam calon investor, seorang pebisnis mungkin akan melontarkan narasi-narasi yang terdengar heroik: “Saya ingin memberikan solusi bagi masyarakat,” atau “Saya melihat ada celah pasar yang belum tergarap.” Meskipun pernyataan tersebut mungkin mengandung kebenaran strategis, ia jarang sekali merepresentasikan keseluruhan cerita. Di balik profil LinkedIn yang mentereng dan siaran pers yang dipoles, terdapat tujuan-tujuan yang jauh lebih purba, tersembunyi di lubuk hati yang paling dalam.
Analogi Gunung Es: Motivasi di Bawah Permukaan
Memahami motivasi seorang wirausahawan sama halnya dengan mengamati sebuah gunung es yang mengapung di lautan. Apa yang kita lihat di atas permukaan—misi perusahaan, visi inovasi, atau sekadar keinginan untuk mandiri secara finansial—hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan struktur. Sekitar 90 persen dari gunung es tersebut berada di bawah permukaan air, dingin, gelap, dan tidak terlihat oleh dunia luar.
Bagian bawah sadar inilah yang menyimpan bahan bakar utama dari sebuah ambisi bisnis. Tujuan ini seringkali jauh lebih rumit, berantakan, dan sangat manusiawi dibandingkan dengan pitch deck bisnis manapun. Ia tidak lahir dari analisis SWOT atau riset pasar, melainkan berakar kuat dari sejarah personal, benturan emosi masa lalu, atau hasrat psikologis yang mungkin tidak ingin diakui oleh sang pemiliknya sendiri.
Akar Psikologis dari Ambisi Bisnis
Jika kita berani menyelam ke bawah permukaan gunung es tersebut, kita akan menemukan berbagai penggerak yang seringkali tabu untuk dibicarakan dalam seminar-seminar kewirausahaan. Beberapa di antaranya meliputi:
- Kompensasi Masa Lalu (Trauma Finansial): Seseorang yang tumbuh dalam kemiskinan yang mencekik mungkin memulai bisnis bukan sekadar untuk “kaya”, tetapi untuk membangun benteng pelindung agar mereka dan keturunannya tidak perlu lagi merasakan rasa malu atau ketidakberdayaan yang sama. Uang, bagi mereka, bukanlah alat tukar, melainkan simbol keamanan absolut.
- Pembuktian Diri (Luka Penolakan): Banyak kerajaan bisnis dibangun di atas fondasi penolakan. Rasa sakit karena diremehkan oleh guru, ditolak oleh lingkungan pergaulan, atau dipecat oleh atasan dapat bermutasi menjadi energi “balas dendam” yang luar biasa. Berbisnis menjadi panggung untuk berteriak kepada dunia: “Lihat saya, saya berharga!”
- Pemberontakan terhadap Otoritas: Beberapa orang memiliki “alergi” bawaan terhadap birokrasi dan perintah. Dorongan mereka untuk menjadi bos bagi diri sendiri bukanlah tentang kepemimpinan visioner, melainkan tentang ketidakmampuan psikologis untuk tunduk pada aturan orang lain. Bisnis adalah wilayah berdaulat di mana mereka memegang kendali penuh.
- Pencarian Makna dan Takut Dilupakan: Di usia tertentu, ambisi bisnis seringkali beralih menjadi ketakutan eksistensial. Membangun sebuah perusahaan menjadi upaya untuk meninggalkan warisan (legacy), sebuah monumen yang akan terus berdiri dan membuktikan bahwa eksistensi mereka di dunia ini memiliki arti, jauh setelah mereka tiada.
Mengapa Kejujuran Terhadap Diri Sendiri Itu Penting?
Anda mungkin bertanya, “Jika sebuah bisnis pada akhirnya menguntungkan dan membuka lapangan kerja, apakah penting dari mana motivasi awalnya berasal?” Jawabannya: Sangat penting. Terutama bagi kelangsungan hidup sang pemimpin itu sendiri.
Tujuan yang tidak disadari akan beroperasi seperti autopilot yang rusak. Jika seorang pendiri tidak menyadari bahwa motivasi utamanya adalah ketakutan akan kemiskinan masa lalu, ia mungkin akan terus memeras keringat karyawannya dan menahan investasi penting karena panik melihat saldo kas berkurang, meskipun perusahaannya sudah bernilai miliaran. Jika bisnis dibangun semata-mata untuk pembuktian ego, sang pemimpin mungkin akan menolak kritik konstruktif dan membawa perusahaannya ke jurang kehancuran hanya demi mempertahankan citra “selalu benar”.
Menyelami dan mengenali bagian bawah gunung es kita bukanlah tentang menghakimi diri sendiri. Ini adalah proses mendapatkan kembali kendali. Ketika seorang pebisnis mampu dengan jujur berdamai dengan luka, ketakutan, atau ambisi mentahnya, motivasi tersebut berhenti menjadi bayangan yang mengendalikan mereka. Sebaliknya, emosi-emosi bawaan tersebut dapat disalurkan, diarahkan, dan diubah menjadi sumber ketangguhan yang otentik. Pemimpin yang paling tangguh bukanlah mereka yang memiliki motivasi paling suci, melainkan mereka yang paling mengenal kegelapan di dalam diri mereka sendiri, dan tetap memilih untuk melangkah maju membangun sesuatu yang berarti bagi dunia.
Ini adalah contoh artikel yang dikembangkan dari sebuah kartu Zettelkasten oleh Hibranwar (Pendiri Hibrkraft).


