Dalam dunia bisnis yang serba cepat dan berorientasi pada angka, profit seringkali dipandang sebagai satu-satunya tujuan, garis finis yang harus dicapai dengan segala cara. Namun, sebuah analogi brilian dari Anu Aga, mantan pimpinan Thermax Limited, menawarkan perspektif yang jauh lebih dalam dan bermakna. Ia berkata, “Kita bertahan hidup dengan bernapas, tetapi kita tidak bisa mengatakan kita hidup untuk bernapas. Demikian pula, menghasilkan uang sangat penting bagi bisnis untuk bertahan hidup, tetapi uang saja tidak bisa menjadi alasan bagi bisnis untuk ada.” Kutipan ini meruntuhkan gagasan bahwa bisnis hanyalah mesin pencetak uang. Ia mengingatkan kita bahwa profit, meskipun vital, hanyalah sarana—bukan tujuan akhir. Profit adalah oksigen, tetapi tujuan (purpose) adalah alasan untuk hidup.
Profit sebagai Oksigen: Prasyarat Mutlak untuk Bertahan Hidup
Sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk menegaskan bahwa analogi Anu Aga sama sekali tidak meremehkan pentingnya profit. Sebaliknya, ia menempatkannya pada posisi yang paling krusial: sebagai oksigen. Tanpa oksigen, tidak ada kehidupan. Begitu pula dalam bisnis, tanpa profit, tidak ada kelangsungan. Profit bukanlah simbol keserakahan; ia adalah energi yang memungkinkan sebuah organisasi untuk terus bergerak dan berfungsi.
Keuntungan finansial memungkinkan sebuah bisnis untuk:
- Membayar Gaji Karyawan: Memberikan penghidupan yang layak bagi orang-orang yang mendedikasikan waktu dan keahlian mereka.
- Berinvestasi dalam Inovasi: Mengalokasikan dana untuk riset dan pengembangan (R&D) guna menciptakan produk yang lebih baik, layanan yang lebih efisien, dan solusi yang lebih canggih.
- Menutup Biaya Operasional: Menjamin semua roda penggerak bisnis—mulai dari sewa gedung, tagihan listrik, hingga pemasaran—dapat terus berjalan.
- Menghadapi Krisis: Membangun cadangan finansial untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi atau tantangan tak terduga.
- Tumbuh dan Berkembang: Mendanai ekspansi ke pasar baru, merekrut lebih banyak talenta, dan meningkatkan skala dampaknya.
Mengabaikan profit sama dengan sengaja menahan napas. Cepat atau lambat, bisnis tersebut akan mati lemas. Jadi, mengejar profitabilitas adalah tindakan yang rasional dan bertanggung jawab. Namun, masalah muncul ketika kita menganggap proses “bernapas” ini sebagai satu-satunya makna dari “kehidupan” bisnis itu sendiri.
Hidup untuk Tujuan, Bukan Sekadar untuk Bernapas
Jika profit adalah oksigen, maka apa yang menjadi “alasan untuk hidup” bagi sebuah bisnis? Jawabannya adalah tujuan atau purpose. Tujuan adalah jawaban atas pertanyaan “Mengapa kita ada?”. Ini adalah misi inti yang melampaui angka-angka dalam laporan keuangan. Tujuan inilah yang memberikan identitas, arah, dan jiwa pada sebuah organisasi.
Bisnis yang digerakkan oleh tujuan (purpose-driven business) tidak hanya bertanya “Apa yang kita jual?”, tetapi juga “Masalah apa yang kita selesaikan?”. Mereka tidak hanya fokus pada “Berapa keuntungan kita?”, tetapi juga pada “Dampak positif apa yang kita ciptakan?”. Tujuan ini bisa bermanifestasi dalam berbagai bentuk:
- Menyelesaikan Masalah Pelanggan: Sebuah perusahaan perangkat lunak mungkin memiliki tujuan untuk “memberdayakan usaha kecil agar dapat bersaing dengan korporasi besar” melalui alat yang terjangkau dan mudah digunakan.
- Mendorong Inovasi Teknologi: Sebuah perusahaan seperti SpaceX tidak hanya bertujuan mencari profit, tetapi didorong oleh misi besar untuk “menjadikan manusia sebagai spesies multi-planet”.
- Membangun Komunitas: Sebuah kedai kopi lokal bisa memiliki tujuan untuk “menciptakan ruang ketiga yang aman dan nyaman di mana orang dapat terhubung”, bukan sekadar menjual kopi.
- Menjaga Keberlanjutan Lingkungan: Merek fesyen seperti Patagonia secara eksplisit menyatakan tujuannya adalah “berada dalam bisnis untuk menyelamatkan planet kita”. Profit yang mereka hasilkan menjadi alat untuk mencapai tujuan tersebut.
Paradoks Menguntungkan: Ketika Tujuan Mendorong Profitabilitas
Ironisnya, bisnis yang berfokus pada tujuan yang lebih tinggi seringkali justru menjadi lebih sukses secara finansial dalam jangka panjang. Ketika sebuah organisasi memiliki “mengapa” yang kuat, hal itu menciptakan efek riak yang positif di seluruh ekosistemnya:
- Menarik dan Mempertahankan Talenta Terbaik: Manusia, terutama generasi muda, tidak hanya mencari pekerjaan; mereka mencari panggilan. Mereka ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Perusahaan dengan tujuan yang jelas dan inspiratif menjadi magnet bagi talenta-talenta terbaik yang lebih termotivasi, inovatif, dan loyal.
- Membangun Loyalitas Pelanggan yang Mendalam: Di pasar yang ramai, pelanggan tidak lagi hanya membeli produk; mereka “membeli” nilai dan cerita di baliknya. Ketika pelanggan merasa terhubung secara emosional dengan misi sebuah merek, mereka berubah dari sekadar pembeli menjadi pendukung setia (brand advocate) yang tidak mudah beralih ke pesaing.
- Menjadi Kompas di Saat Sulit: Ketika dihadapkan pada pilihan yang sulit atau krisis, tujuan yang jelas berfungsi sebagai bintang penunjuk arah (North Star). Hal ini membantu para pemimpin membuat keputusan yang konsisten dengan nilai-nilai inti perusahaan, membangun kepercayaan, dan menjaga integritas jangka panjang.
Pada akhirnya, kutipan Anu Aga mengajak para pemimpin bisnis dan wirausahawan untuk melakukan sebuah refleksi mendasar. Jangan hanya membangun bisnis yang bisa “bernapas” dengan stabil dari kuartal ke kuartal. Bangunlah sebuah bisnis yang memiliki alasan kuat untuk “hidup”—sebuah entitas yang memberikan kontribusi unik, memecahkan masalah nyata, dan meninggalkan warisan positif. Dengan menemukan tujuan sejatinya, bisnis tidak hanya akan bertahan hidup; ia akan benar-benar berkembang dan memberikan makna, baik bagi pendirinya, karyawannya, pelanggannya, maupun dunia di sekitarnya. Karena pada akhirnya, profit akan mengikuti tujuan yang besar, bukan sebaliknya.
Ini adalah contoh artikel yang dikembangkan dari sebuah kartu Zettelkasten oleh Hibranwar (Pendiri Hibrkraft).



