Pernahkah Anda bertanya kepada seorang pendiri bisnis, “Mengapa Anda memulai usaha ini?” Anda mungkin akan mendengar jawaban-jawaban yang terdengar mulia dan inspiratif: “Saya ingin memecahkan masalah,” “Saya melihat ada celah di pasar,” atau “Saya ingin mengejar hasrat saya.” Jawaban-jawaban ini, meskipun seringkali benar, jarang sekali menceritakan keseluruhan cerita. Di balik narasi yang rapi dan siap untuk media, tersembunyi lapisan-lapisan motivasi yang lebih kompleks, lebih personal, dan terkadang, lebih mentah. Tidak semua orang siap, atau bahkan sadar, untuk mengungkap alasan sebenarnya di balik keputusan besar mereka untuk terjun ke dunia bisnis. Sebagian mungkin malu, sebagian lagi takut hal itu akan merusak citra mereka, dan banyak yang bahkan belum pernah benar-benar bertanya pada diri mereka sendiri.
Narasi Panggung Depan: Alasan “Aman” untuk Berbisnis
Setiap wirausahawan memiliki sebuah “cerita asal” (origin story) yang mereka sajikan kepada publik. Cerita ini penting untuk membangun merek, menarik investor, dan menginspirasi tim. Biasanya, narasi ini jatuh ke dalam beberapa kategori yang familier dan mudah diterima:
- Sang Visioner Pemecah Masalah: “Saya frustrasi dengan [masalah spesifik] dan saya tahu harus ada cara yang lebih baik. Jadi, saya menciptakannya.” Narasi ini menempatkan pendiri sebagai seorang inovator yang altruistik.
- Sang Pengikut Gairah (Passion): “Saya sudah mencintai [bidang tertentu] sejak kecil. Bisnis ini adalah cara saya untuk mendedikasikan hidup saya pada hal yang saya sukai.” Ini adalah narasi seniman yang romantis.
- Sang Pencari Kebebasan: “Saya lelah bekerja untuk orang lain. Saya ingin menjadi bos bagi diri saya sendiri, mengatur waktu saya, dan membangun sesuatu yang menjadi milik saya.” Ini adalah impian klasik tentang kemandirian.
- Sang Oportunis: “Saya melihat sebuah tren pasar yang besar dan memutuskan untuk memanfaatkannya.” Narasi ini menonjolkan kecerdasan dan ketajaman bisnis.
Tidak ada yang salah dengan narasi-narasi ini. Mereka seringkali merupakan bagian dari kebenaran. Namun, mereka adalah versi yang telah disunting, dipoles, dan disiapkan untuk konsumsi publik. Mereka menyembunyikan “mengapa” yang lebih dalam, yang mungkin tidak terdengar sehebat itu dalam sebuah wawancara majalah.
Di Balik Tirai: Motivasi Tersembunyi yang Mendorong Aksi
Lalu, apa alasan sebenarnya yang sering kali tidak terungkap? Alasan-alasan ini bersifat sangat manusiawi, lahir dari emosi, pengalaman, dan terkadang, luka masa lalu. Mengungkapkannya bisa terasa rentan atau berisiko merusak citra “pengusaha ideal” yang tangguh dan visioner.
1. Keterdesakan dan Keputusasaan
Banyak bisnis hebat tidak lahir dari inspirasi, melainkan dari keputusasaan. Seseorang yang baru saja di-PHK dengan tabungan menipis, seorang imigran yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan formal, atau orang tua tunggal yang harus mencari cara untuk menghidupi anak-anaknya. Dalam situasi ini, bisnis bukanlah pilihan, melainkan satu-satunya jalan untuk bertahan hidup. Mengakui bahwa bisnis Anda dimulai dari titik terendah mungkin terasa seperti menunjukkan kelemahan, padahal sebenarnya itu adalah bukti ketahanan yang luar biasa.
2. Pembuktian Diri dan “Balas Dendam”
Ini adalah salah satu motivator paling kuat yang jarang diakui. Seseorang mungkin memulai bisnis untuk membuktikan kepada orang tua yang meremehkannya, mantan bos yang memecatnya, atau teman-teman yang meragukannya, bahwa ia mampu sukses. Setiap pencapaian bisnis terasa seperti sebuah kemenangan personal. Energi dari keinginan untuk membuktikan sesuatu (“I’ll show them!”) bisa menjadi bahan bakar yang tak ada habisnya, meskipun seringkali disamarkan dengan tujuan yang lebih mulia.
3. Ego, Status, dan Pengakuan
Manusia adalah makhluk sosial yang mendambakan status dan pengakuan. Gelar “Founder & CEO” membawa prestise tersendiri. Keinginan untuk dihormati, dilihat sebagai orang sukses, diundang ke acara-acara penting, atau sekadar memiliki kuasa untuk membuat keputusan adalah dorongan ego yang sangat nyata. Sulit bagi seseorang untuk berkata, “Saya memulai bisnis ini karena saya ingin orang-orang menganggap saya penting,” meskipun itu mungkin bagian besar dari motivasi bawah sadar mereka.
4. Ketakutan akan Ketiadaan Arti (Fear of Irrelevance)
Bagi sebagian orang, terutama yang memasuki paruh baya, bisnis adalah jawaban atas krisis eksistensial. Ini adalah cara untuk membangun sebuah warisan (legacy), untuk menciptakan sesuatu yang akan bertahan lebih lama dari diri mereka sendiri. Ketakutan menjadi sekadar angka dalam statistik, menjalani hidup yang biasa-biasa saja, dan dilupakan setelah tiada, dapat mendorong seseorang untuk mengambil risiko besar dan membangun sesuatu dari nol. Ini bukan tentang uang, tetapi tentang makna.
5. Jalan Keluar (Escape)
Terkadang, bisnis adalah sebuah pelarian. Pelarian dari pekerjaan korporat yang membosankan dan mematikan jiwa, pelarian dari jalur karier yang diharapkan oleh keluarga, atau bahkan pelarian dari masalah pribadi. Dengan menyibukkan diri dalam kekacauan membangun bisnis, seseorang dapat menghindari keharusan untuk menghadapi aspek lain dalam hidup mereka yang tidak memuaskan.
Mengapa Memahami “Mengapa” yang Sebenarnya Itu Penting?
Menyelami dan memahami motivasi sejati di balik keputusan berbisnis bukanlah sekadar latihan psikologis. Ini memiliki implikasi praktis yang sangat besar. Ketika seorang pendiri jujur pada dirinya sendiri tentang pendorong utamanya—apakah itu ketakutan, ego, atau keinginan untuk membuktikan sesuatu—ia dapat mengelola emosi tersebut secara lebih sehat. Ia dapat memastikan bahwa “balas dendam” tidak membuatnya mengambil keputusan yang merusak, atau bahwa kebutuhan akan status tidak mengaburkan penilaiannya terhadap kesehatan finansial perusahaan.
Kejujuran pada diri sendiri adalah fondasi dari kepemimpinan yang otentik. Ketika Anda tahu persis apa bahan bakar Anda, Anda akan lebih tangguh menghadapi kesulitan, karena Anda terhubung dengan sumber energi emosional yang paling dalam. Pada akhirnya, kisah yang paling menginspirasi bukanlah kisah yang dipoles sempurna, melainkan kisah yang jujur tentang perjuangan manusia—dengan segala kerentanan, ketakutan, dan keinginan mentahnya—untuk menciptakan sesuatu yang bermakna di dunia ini.
Ini adalah contoh artikel yang dikembangkan dari sebuah kartu Zettelkasten oleh Hibranwar (Pendiri Hibrkraft).



