Sebelum era digital, sebelum mesin cetak modern, bahkan sebelum adanya buku saku yang bisa kita genggam, ada sebuah momen revolusioner ketika pengetahuan untuk pertama kalinya melompat dari goresan tangan seorang juru tulis ke derak sebuah mesin cetak. Artikel ini akan membawa Anda dalam perjalanan kembali ke momen krusial tersebut melalui sebuah objek yang luar biasa: edisi tahun 1489 dari The Myrrour of the Worlde, buku bergambar pertama yang pernah dicetak di tanah Inggris. Kita akan menjelajahi bengkel kerja William Caxton, seorang saudagar visioner yang tidak hanya memperkenalkan seni cetak ke Inggris, tetapi juga turut membentuk bahasa yang kita gunakan hari ini. Temukan bagaimana ensiklopedia abad pertengahan ini, yang dipenuhi dengan diagram potongan kayu tentang kosmos dan deskripsi dunia yang penuh keajaiban, merepresentasikan lebih dari sekadar sebuah buku. Ia adalah bukti dari sebuah era informasi baru, sebuah usaha bisnis yang cerdik, dan sebuah fondasi bagi literatur Inggris. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah buku menjadi cermin bagi dunianya, dan bagaimana penciptanya menjadi seorang legenda.

William Caxton: Saudagar, Diplomat, dan Bapak Percetakan Inggris
Kisah William Caxton (sekitar 1422–1491) bukanlah kisah seorang cendekiawan atau seniman sejak lahir. Ia adalah seorang pebisnis ulung, seorang pria dengan naluri tajam terhadap pasar dan inovasi. Lahir di Kent, ia memulai karirnya pada tahun 1438 sebagai seorang calon pedagang tekstil di London, magang pada Robert Large, seorang saudagar terkemuka. Setelah kematian Large, Caxton pindah ke Bruges, Belgia. Bruges pada masa itu adalah jantung perdagangan Eropa, sebuah kota kosmopolitan yang menjadi titik temu antara pedagang Inggris dan Flemish.
Di sana, Caxton membangun bisnis tekstil yang sangat sukses. Kehebatannya dalam berbisnis dan bernegosiasi membuatnya menonjol. Pada tahun 1463, ia telah mencapai posisi puncak sebagai gubernur Merchant Adventurers di Negara-Negara Dataran Rendah (sekarang Belgia dan Belanda), sebuah peran yang tidak hanya bersifat komersial tetapi juga diplomatik. Ia bertindak atas nama Raja Edward IV dalam berbagai negosiasi penting.

Perubahan arah hidupnya yang monumental terjadi setelah gejolak politik di Inggris. Ketika Raja Edward IV diasingkan pada tahun 1470–71, Caxton tampaknya kehilangan posisi gubernurnya. Pada titik inilah, di usia akhir 40-an, ia beralih ke sebuah teknologi baru yang revolusioner: seni cetak dengan tipe bergerak (movable type). Teknologi yang disempurnakan oleh Johann Gutenberg di Mainz, Jerman, sekitar tahun 1450 ini menyebar secara perlahan ke seluruh Eropa. Caxton pindah ke Cologne, sebuah kota yang sudah memiliki mesin cetak sejak 1465, dan diyakini menghabiskan waktu sekitar satu tahun untuk mempelajari seluk-beluk kerajinan baru ini.
Dengan pengetahuan barunya, ia kembali ke Bruges dan mendirikan percetakannya sendiri. Di sinilah, sekitar tahun 1474, ia mencetak buku pertamanya: terjemahannya sendiri atas karya berjudul The Recuyell of the Historyes of Troye. Setelah menerbitkan beberapa buku lain dalam bahasa Inggris dan Prancis, Caxton membuat keputusan bersejarah. Pada tahun 1476, ia kembali ke Inggris, membawa serta teknologi, pengetahuan, dan ambisinya. Ia membuka sebuah toko percetakan di Westminster, di bawah tanda “The Red Pale”, dan dari sanalah, sebuah revolusi literasi di Inggris dimulai.
Tahapan Hidup | Tahun (Perkiraan) | Deskripsi dan Pencapaian Utama |
---|---|---|
Masa Muda & Magang | 1422–1441 | Lahir di Kent, Inggris. Menjadi murid (apprentice) dari Robert Large, seorang saudagar tekstil terkemuka di London. |
Saudagar di Bruges | 1441–1470 | Pindah ke Bruges, membangun bisnis tekstil yang sukses. Menjadi tokoh penting di komunitas pedagang Inggris. |
Gubernur & Diplomat | 1463–1470 | Diangkat menjadi Gubernur Merchant Adventurers. Terlibat dalam berbagai negosiasi diplomatik atas nama Raja Edward IV. |
Belajar Mencetak | 1471–1473 | Pindah ke Cologne, Jerman. Menghabiskan waktu mempelajari teknologi baru yaitu pencetakan dengan tipe bergerak. |
Mendirikan Percetakan Pertama | 1473–1476 | Kembali ke Bruges dan mendirikan percetakannya sendiri. Menerbitkan buku cetak pertama dalam bahasa Inggris. |
Percetakan Westminster | 1476–1491 | Kembali ke Inggris, membuka toko percetakan di Westminster. Menerbitkan lebih dari 100 karya, termasuk The Canterbury Tales dan The Myrrour of the Worlde. |
The Myrrour of the Worlde: Sebuah Cermin Pengetahuan Abad Pertengahan

Buku yang menjadi fokus kita, The Myrrour of the Worlde (Cermin Dunia), adalah contoh sempurna dari visi Caxton. Ini adalah sebuah ensiklopedia populer, yang edisi pertamanya dicetak Caxton pada tahun 1481 atas permintaan dan biaya dari Hugh Bryce, seorang saudagar dan pejabat kota London. Edisi kedua, yang dicetak sekitar tahun 1489 dan menjadi koleksi Universitas Glasgow, menunjukkan perkembangan teknik cetak Caxton.
Teks ini sendiri adalah terjemahan dari versi prosa Prancis berjudul L’image du monde, yang kemungkinan besar ditulis oleh Gossuin dari Metz. Karya Prancis ini merupakan turunan dari sebuah kompilasi Latin abad ke-12 yang sangat berpengaruh, Imago mundi, oleh Honorius Augustodunensis. Teks-teks ensiklopedis semacam ini sangat populer di Abad Pertengahan. Pada masa itu, ada keyakinan umum bahwa semua pengetahuan manusia dapat diringkas dalam satu volume. Ditujukan untuk khalayak umum (yang bisa membaca), karya-karya ini sangat berguna di saat akses ke perpustakaan sangat terbatas dan kepemilikan buku adalah sebuah kemewahan yang langka.

Tidak seperti ensiklopedia modern yang disusun secara alfabetis untuk referensi cepat, karya-karya abad pertengahan ini dirancang untuk dibaca dari awal hingga akhir. Strukturnya sistematis, membawa pembaca dalam sebuah perjalanan pengetahuan yang teratur. Tujuannya dijelaskan dalam kata pengantar buku: sebagai catatan abadi tentang perbuatan dan pengetahuan orang-orang kuno yang “harus dikunjungi, dibaca, dan diketahui karena ia membahas tentang dunia dan pembagiannya yang menakjubkan”.
Isi Sang Cermin Dunia
Versi yang diterjemahkan Caxton dibagi menjadi tiga bagian utama, mencerminkan kurikulum standar untuk pelajar abad pertengahan:
- Bagian Pertama: Teologi dan Seni Liberal. Bagian ini dimulai dengan kekuasaan Tuhan dan penciptaan dunia, sebelum beralih ke tujuh seni liberal. Ini adalah fondasi pendidikan klasik yang terdiri dari trivium (tata bahasa, logika, dan retorika) dan quadrivium (geometri, aritmatika, astronomi, dan musik). Ada diskusi mendalam tentang tempat Bumi di alam semesta, bentuknya yang bulat, dan hubungannya dengan planet-planet lain.
- Bagian Kedua: Geografi dan Ilmu Alam. Bagian ini membahas geografi dunia yang dikenal saat itu, dengan deskripsi tentang India, Eropa, dan Afrika, lengkap dengan hewan dan burungnya. Topik lain yang dibahas termasuk elemen-elemen alam (api, udara, air, tanah), cuaca, perputaran cakrawala, dan bintang-bintang.
- Bagian Ketiga: Kosmologi dan Filsafat. Bagian terakhir mencakup berbagai topik seperti bagaimana siang dan malam terjadi, gerhana matahari, mengapa uang diciptakan, filsafat, perbandingan ukuran matahari, bulan, dan bumi, serta jumlah bintang di langit. Buku ini diakhiri dengan nada yang sangat religius, yaitu deskripsi tentang surga dan firdaus selestial. Tentu saja, pada masa itu, perolehan pengetahuan apa pun pada akhirnya dirancang untuk menuntun pada pemahaman yang lebih baik tentang Tuhan dan, oleh karena itu, menuju keselamatan spiritual.
Revolusi dalam Tinta dan Potongan Kayu
Edisi tahun 1481 dari Myrrour sering disebut sebagai buku berbahasa Inggris pertama yang diilustrasikan. Ilustrasi-ilustrasi ini dibuat menggunakan teknik potongan kayu (woodcut), di mana gambar diukir pada balok kayu, dilapisi tinta, lalu ditekan ke kertas. Potongan kayu dalam buku ini agak primitif dan kemungkinan besar dibuat oleh seorang pengrajin Inggris.
Sejarawan seni, Edward Hodnett, bahkan dengan pedas mendeskripsikan kualitasnya sebagai “dieksekusi dengan menyedihkan” dan berkomentar bahwa “Inggris tersandung ke panggung ilustrasi buku dengan beberapa potongan kayu terburuk yang pernah disisipkan di antara sampul”. Meskipun kualitas artistiknya mungkin tidak sehalus karya-karya dari daratan Eropa, ilustrasi-ilustrasi ini memiliki fungsi praktis yang sangat penting dalam sebuah teks faktual. Seperti yang dikatakan Caxton sendiri dalam kata pengantarnya, tanpa gambar-gambar ini, isinya “tidak dapat dengan mudah dipahami”.

Bagi kita sekarang, “ketidaksempurnaan” ini justru menawan. Ia menunjukkan tahap awal dari sebuah industri yang baru lahir, sebuah eksperimen berani dalam menggabungkan teks dan gambar secara massal. Ini adalah bukti nyata dari proses belajar. Perbedaan kecil antara edisi pertama (1481) dan kedua (sekitar 1489) menunjukkan bagaimana teknik Caxton berkembang seiring waktu. Misalnya, di edisi kedua, inisial dua baris dan penanda paragraf sudah dicetak, sementara di edisi pertama, ruang tersebut dibiarkan kosong untuk diisi dengan tangan oleh seorang juru tulis (rubricator).
Dampak yang Mengubah Dunia
Sulit bagi kita untuk membayangkan dampak luar biasa yang dimiliki percetakan pada masyarakat di akhir abad ke-15. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, banyak salinan teks dapat diproduksi dengan kecepatan dan akurasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Buku yang tadinya merupakan barang mewah yang hanya dimiliki oleh kaum bangsawan, gereja, dan cendekiawan kaya, secara perlahan mulai dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas.

Warisan Abadi William Caxton
Kesuksesan Caxton tidak hanya terletak pada penguasaan teknik cetaknya, yang sejujurnya tidak sehebat beberapa rekannya di Eropa. Kejeniusannya terletak pada kombinasi keahlian teknis dengan naluri bisnis yang tajam. Banyak orang lain yang mencoba peruntungan dalam teknologi baru ini, tetapi sedikit yang bertahan lama. Mencetak buku adalah investasi yang sangat besar, memerlukan peralatan mahal dan kertas yang harganya selangit.
Caxton tahu apa yang akan laku. Sementara buku-buku dalam bahasa Latin dan Prancis dapat dengan mudah diimpor dari daratan Eropa, ia berkonsentrasi pada ceruk pasar yang tidak bisa dipenuhi oleh orang lain: buku-buku dalam bahasa Inggris. Dari lebih dari 100 karya yang ia cetak, 74 di antaranya berbahasa Inggris, dan 20 di antaranya ia terjemahkan sendiri.

Pembentuk Bahasa Inggris
Keputusan ini menjadikan Caxton bukan hanya seorang pionir percetakan, tetapi juga salah satu tokoh paling signifikan dalam perkembangan bahasa Inggris. Pada masanya, ada beberapa dialek Inggris yang saling bersaing untuk menjadi yang utama. Dengan memilih untuk mencetak karya-karya besar seperti The Canterbury Tales karya Chaucer dan Morte d’Arthur karya Malory dalam dialek London yang ia gunakan, Caxton secara efektif membantu menstandarisasi bahasa tersebut. Teks-teksnya yang tersebar luas menjadi acuan bagi ejaan dan tata bahasa, membuat komunikasi di seluruh negeri menjadi lebih mudah.
Dalam kata pengantarnya untuk Myrrour, Caxton dengan rendah hati menggambarkan karyanya sebagai “diterjemahkan secara kasar dari bahasa Prancis ke bahasa Inggris oleh saya, pribadi yang sederhana, William Caxton”. Namun, tulisannya sebenarnya cukup rumit dan penuh gaya. Ia juga dengan cerdik menyalahkan “salinan” naskah aslinya jika pembaca menemukan kesalahan dalam terjemahannya, sebuah taktik yang mungkin masih relevan hingga hari ini.

Kisah Satu Salinan: Dari Biara ke Universitas
Salinan Myrrour of the Worlde yang berada di Universitas Glasgow ini memiliki kisah yang luar biasa karena jejak kepemilikannya dapat ditelusuri hampir sejak buku itu dicetak. Prasasti kepemilikan paling awal menyatakan bahwa buku itu dibeli di Shrewsbury pada tahun 1510 oleh Thomas Botelar, seorang vikaris (pendeta) dari Much Wenlock, dari seorang “scolar” (pelajar) bernama John Trustanes.
Dua abad kemudian, tanda tangan dari Anne Greasbrooke dan William Barnesley muncul di halaman judul. Buku ini kemudian menjadi milik John Ratcliffe (1707–1776), seorang pedagang lilin dan kolektor buku terkenal di London. Akhirnya, pada tahun 1776, buku ini dibeli oleh dokter dan kolektor terkemuka, William Hunter, dalam sebuah lelang buku-buku milik Ratcliffe dengan harga £4 17s. Hunter kemudian mewariskan seluruh koleksinya yang luar biasa, termasuk buku ini, kepada Universitas Glasgow, di mana ia tiba pada tahun 1807 dan dirawat hingga hari ini.

Kisah perjalanan satu buku ini adalah pengingat yang kuat bahwa buku bukan hanya wadah informasi, tetapi juga objek fisik yang hidup, yang melewati tangan, waktu, dan sejarah, menyerap cerita dari setiap pemiliknya.
William Caxton dan The Myrrour of the Worlde menandai fajar baru bagi pengetahuan dan literatur. Mereka menunjukkan bagaimana teknologi, ambisi bisnis, dan kecintaan pada cerita dapat bersatu untuk mengubah dunia, satu halaman demi satu halaman.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Mengapa William Caxton dianggap begitu penting dalam sejarah Inggris?
William Caxton penting karena dua alasan utama. Pertama, ia adalah orang pertama yang memperkenalkan mesin cetak ke Inggris pada tahun 1476, sebuah teknologi yang merevolusi penyebaran informasi. Kedua, dengan memilih untuk mencetak buku-buku dalam dialek London, ia memainkan peran krusial dalam menstandarisasi bahasa Inggris, yang sebelumnya memiliki banyak variasi dialek yang saling bersaing.
Apa yang membuat “The Myrrour of the Worlde” begitu istimewa?
The Myrrour of the Worlde istimewa karena merupakan buku pertama yang dicetak di Inggris yang menyertakan ilustrasi (potongan kayu/woodcut). Sebagai sebuah ensiklopedia populer, ia memberikan gambaran yang menarik tentang pengetahuan dan pandangan dunia masyarakat pada akhir Abad Pertengahan, mencakup segala hal dari teologi, seni liberal, geografi, hingga astronomi.
Apakah informasi dalam “The Myrrour of the Worlde” akurat menurut standar sekarang?
Tidak semua. Meskipun beberapa konsepnya, seperti bumi yang bulat, sudah benar, banyak informasi geografis dan kosmologisnya yang sekarang kita anggap mitos atau tidak akurat. Misalnya, buku ini menggambarkan “surga duniawi” (paradis terrestre) yang dijaga oleh api dan sebuah pulau di India yang penuh emas tetapi dijaga oleh naga dan griffin. Buku ini adalah cermin dari pengetahuan zamannya, bukan cermin dari kebenaran ilmiah modern.
Bagaimana percetakan mengubah masyarakat pada abad ke-15?
Percetakan memungkinkan produksi buku secara massal dengan kecepatan dan akurasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini secara dramatis menurunkan harga buku, meningkatkan tingkat melek huruf, menyebarkan ide-ide baru (termasuk ide-ide Reformasi di kemudian hari), dan memungkinkan standardisasi bahasa dan pengetahuan. Ini adalah salah satu penemuan paling transformatif dalam sejarah manusia.
Apakah William Caxton menulis semua buku yang ia cetak?
Tidak. Caxton adalah seorang penerbit, editor, dan juga seorang penerjemah yang produktif. Dari lebih dari 100 karya yang ia cetak, ia menerjemahkan sendiri sekitar 20 di antaranya dari bahasa Prancis atau Belanda ke bahasa Inggris. Ia juga sering menulis kata pengantar (prologue) dan kata penutup (epilogue) untuk buku-buku yang ia terbitkan, yang memberikan wawasan berharga tentang metode kerja dan pemikirannya.