Industri kulit dan alas kaki Indonesia adalah sebuah narasi tentang paradoks yang mencengangkan: sebuah pilar ekonomi padat karya yang menjadi pemain kunci global, namun di saat yang sama terus berjuang dengan tantangan struktural yang menahun. Tahun 2024 menandai sebuah babak pemulihan yang kuat setelah tahun 2023 yang sulit, dengan data ekspor yang menunjukkan pertumbuhan signifikan. Artikel ini akan membedah secara mendalam kondisi terkini industri vital ini, mulai dari kinerja ekspor yang menguat dan peran pentingnya bagi perekonomian, hingga analisis tajam mengenai isu-isu persisten seperti kelangkaan bahan baku, praktik UKM yang tradisional, dan hambatan birokrasi. Dengan memahami baik tantangan maupun peluang strategis yang ada, kita dapat melihat gambaran utuh masa depan industri kulit dan alas kaki Indonesia.
Industri Kulit & Alas Kaki Indonesia: Urat Nadi Manufaktur di Persimpangan Jalan
Industri kulit dan alas kaki Indonesia lebih dari sekadar pabrik dan produk; ia adalah urat nadi perekonomian yang menghidupi jutaan orang dan menjadi wajah Indonesia di panggung global. Dicirikan oleh sifatnya yang padat karya dan berorientasi ekspor, sektor ini merupakan salah satu pilar utama industri manufaktur nasional. Meskipun terus-menerus dihadapkan pada tantangan yang kompleks, tahun 2024 menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan penguatan yang signifikan, didukung oleh investasi strategis dan berbagai inisiatif pemerintah.
Gambaran Umum Industri: Skala, Struktur, dan Signifikansi Ekonomi
Untuk memahami pentingnya sektor ini, kita perlu melihat skalanya. Sektor manufaktur, di mana industri kulit dan alas kaki menjadi bagian penting di dalamnya, secara konsisten menjadi kontributor utama bagi neraca perdagangan Indonesia. Antara Januari hingga Agustus 2022 saja, sektor ini menyumbang 71,55% dari total ekspor domestik dan telah menjaga surplus perdagangan selama puluhan bulan berturut-turut. Secara spesifik, subsektor kulit, barang jadi kulit, dan alas kaki bahkan sempat menjadi salah satu dari tiga penampil terbaik dengan pertumbuhan positif mencapai 13,12% pada kuartal kedua tahun 2022.
Posisi Indonesia sebagai produsen sepatu terbesar keenam di dunia bukanlah sebuah kebetulan. Di balik peringkat ini terdapat ekosistem yang masif, mulai dari pabrik-pabrik besar mitra merek internasional hingga ribuan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang menjadi tulang punggung produksi. Sifatnya yang padat karya menjadikannya sektor prioritas bagi pemerintah untuk penciptaan lapangan kerja. Sebagai contoh, sebuah pabrik mitra Nike, PT Pratama Abadi Industri, mampu menyerap hingga 40.000 tenaga kerja.
Produk yang dihasilkan sangat beragam, mencakup segala hal mulai dari kulit samak dan kulit awetan sebagai bahan baku, hingga barang jadi seperti alas kaki, tas, koper, ikat pinggang, sarung tangan, dan pakaian. Keragaman inilah yang menjadi salah satu kekuatannya di pasar global.
Kinerja Ekspor 2024: Sinyal Kuat Pemulihan
Setelah mengalami tahun 2023 yang menantang dengan penurunan ekspor yang signifikan, tahun 2024 membawa angin segar. Data menunjukkan pembalikan tren yang kuat:
- Volume Ekspor: Mencapai 455.950 ton, sebuah lonjakan sekitar 21% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
- Nilai Ekspor: Meningkat sekitar 10% (yoy), mencapai angka US$8,36 miliar.
Pada kuartal pertama 2024 saja, industri alas kaki tumbuh sebesar 5,90% (YoY), sebuah perbaikan dramatis dari kontraksi -2,75% pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini memberikan kontribusi positif yang nyata terhadap PDB Indonesia. Jika dibedah lebih lanjut, beberapa komoditas menunjukkan performa yang luar biasa dalam hal pertumbuhan nilai ekspor pada tahun 2024:
Komoditas | Pertumbuhan Nilai Ekspor (2024, yoy) | Analisis Singkat |
---|---|---|
Kulit Awetan (Preserved Leather) | +117,90% | Permintaan yang meroket untuk kulit olahan bernilai tambah, menunjukkan pergeseran dari ekspor bahan mentah. |
Sepatu Teknik Industri/Lapangan | +35,15% | Penguatan di pasar niche yang membutuhkan produk fungsional dengan spesifikasi tinggi. |
Barang dari Kulit/Kulit Komposisi | +14,51% | Pertumbuhan yang solid untuk produk jadi seperti tas dan aksesoris, menandakan peningkatan kapasitas desain dan manufaktur. |
Alas Kaki Sehari-hari | +10,57% | Pemulihan di pasar massal, didorong oleh kembalinya daya beli konsumen global. |
Sepatu Olahraga | +9,26% | Mulai pulih setelah penurunan tajam di 2023, tetap menjadi tulang punggung ekspor meskipun pertumbuhannya lebih moderat. |
Kulit Samak (Tanned Leather) | -5,78% | Satu-satunya yang mengalami penurunan, kemungkinan akibat persaingan harga global atau pergeseran permintaan. |
Tantangan dan Hambatan: Pekerjaan Rumah yang Menahun
Namun, di balik fasad pemulihan yang kuat ini, fondasi industri masih menyimpan beberapa retakan struktural yang kronis. Mengatasi tantangan-tantangan ini adalah kunci untuk pertumbuhan yang berkelanjutan.
1. Kelangkaan Bahan Baku: Sebuah Paradoks yang Mahal
Ini adalah masalah paling signifikan dan persisten. Ironisnya, sebagai negara dengan sumber daya alam yang melimpah, industri kulit dalam negeri justru mengalami defisit pasokan bahan baku. Penyebabnya kompleks, namun salah satu yang utama adalah preferensi pemasok kulit mentah untuk mengekspor langsung daripada menjual ke pengolah domestik. Akibatnya, produksi kulit dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 35% dari kebutuhan nasional. Sisa 65% harus ditutupi oleh impor (misalnya, 3 juta lembar kulit sapi dan 13,5 juta lembar kulit domba/kambing diimpor). Ketergantungan ini menyebabkan biaya tambahan dan waktu tunggu yang lebih lama, yang pada akhirnya membuat produk Indonesia menjadi kurang kompetitif.
2. Praktik Tradisional di Tingkat UKM
Sebagian besar industri ini ditopang oleh UKM. Namun, banyak dari mereka, terutama di sentra-sentra kerajinan tradisional seperti Manding di Yogyakarta, masih beroperasi dengan proses manufaktur yang sudah tua, manajemen tradisional berbasis keluarga, dan produktivitas tenaga kerja yang rendah. Kurangnya adopsi teknologi, aktivitas pengembangan produk yang minim, serta sistem informasi pasar yang lemah membuat produk mereka sulit bersaing dalam hal kualitas, desain, dan harga di pasar yang lebih luas.
3. Hambatan Birokrasi dan Perizinan
Seperti banyak sektor lain di Indonesia, industri ini juga menghadapi masalah klasik berupa hambatan birokrasi dan keterlambatan perizinan. Isu-isu terkait pengadaan lahan dan proses perizinan bangunan (seperti transisi ke Persetujuan Bangunan Gedung/PBG dan Sertifikat Laik Fungsi/SLF) dapat meningkatkan biaya investasi dan operasional secara signifikan, yang pada akhirnya menghambat penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan yang robust.
4. Konteks Penurunan 2023 dan Persaingan Global
Penting untuk diingat bahwa pemulihan di 2024 terjadi setelah penurunan ekspor yang tajam di tahun 2023, di mana volume turun 14,24% dan nilai turun 15,29%. Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk ketidakpastian ekonomi global dan tantangan logistik. Selain itu, persaingan global yang semakin ketat dan pergeseran permintaan pasar terus menjadi ancaman, seperti yang diilustrasikan oleh penutupan pabrik PT Sepatu Bata Tbk pada April 2024 setelah berjuang dengan dampak jangka panjang pandemi dan persaingan yang intens.
Strategi dan Peluang: Peta Jalan Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan
Meskipun tantangan yang dihadapi cukup berat, prospek masa depan industri ini tetap cerah berkat berbagai strategi dan peluang yang sedang berkembang.
1. Aliran Investasi yang Kuat
Kepercayaan investor tetap tinggi. Antara Januari dan September 2023, investasi domestik di sektor ini mencapai Rp 1,1 triliun dan investasi asing mencapai USD 574,3 juta. Modal ini sangat penting untuk modernisasi, ekspansi, dan peningkatan kapasitas produksi.
2. Kebijakan Pemerintah yang Mendukung
Pemerintah secara aktif mendorong pertumbuhan melalui berbagai kebijakan:
- UU Cipta Kerja: Bertujuan untuk memperbaiki iklim bisnis dan menyederhanakan regulasi untuk mendorong investasi.
- Diversifikasi Pasar Ekspor: Upaya untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional (AS, Uni Eropa, Jepang, Tiongkok) dan menjajaki pasar non-tradisional.
- Insentif Fiskal: Berbagai fasilitas seperti tax holiday, tax allowance, dan pembebasan bea masuk diberikan untuk industri padat karya guna mendorong investasi.
- Kawasan Ekonomi Khusus (KEK): Penyediaan zona dengan lingkungan bisnis yang kondusif, lengkap dengan berbagai fasilitas dan insentif.
3. Strategi Inovasi untuk UKM
Untuk meningkatkan daya saing, UKM didorong untuk mengadopsi strategi inovasi, memanfaatkan teknologi informasi untuk efisiensi, berpartisipasi dalam jaringan dan kerja sama, serta memanfaatkan klaster industri geografis untuk transfer pengetahuan dan teknologi.
4. Tren Konsumen dan Pertumbuhan Pasar Domestik
Peluang baru muncul dari pergeseran tren konsumen. Meningkatnya preferensi untuk produk yang ramah lingkungan (eco-friendly) dan buatan lokal (locally-made) membuka ceruk pasar yang sangat potensial. Selain itu, pasar alas kaki domestik sendiri diproyeksikan mencapai USD 5,49 miliar pada tahun 2024 dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 5,50%, memberikan basis pasar yang kuat untuk pertumbuhan industri.
Kesimpulan
Industri kulit dan alas kaki Indonesia adalah sektor vital yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan pertumbuhan yang kuat di tahun 2024 setelah melewati tahun 2023 yang penuh tantangan. Meskipun isu-isu struktural yang signifikan seperti kelangkaan bahan baku, praktik UKM yang tradisional, dan kompleksitas birokrasi tetap menjadi pekerjaan rumah yang serius, prospek masa depan industri ini tetap menjanjikan. Dengan dukungan kebijakan pemerintah yang strategis, peningkatan investasi yang berkelanjutan, dan kemampuan industri untuk beradaptasi dengan tren konsumen yang berkembang, Indonesia memiliki peluang besar untuk terus memperkuat posisinya sebagai pemain utama di panggung global.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Mengapa Indonesia masih mengimpor bahan baku kulit padahal merupakan negara agraris?
Ini adalah sebuah paradoks yang disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, industri pendukung di hulu (seperti rumah potong hewan dan pengolahan awal) belum berkembang optimal untuk menghasilkan kulit mentah berkualitas ekspor secara konsisten. Kedua, pemasok kulit mentah seringkali mendapatkan harga yang lebih baik dengan mengekspor langsung daripada menjual ke pengolah domestik. Akibatnya, industri dalam negeri mengalami kekurangan pasokan dan terpaksa mengimpor untuk memenuhi kebutuhan produksinya.
Apa dampak penutupan pabrik seperti PT Sepatu Bata bagi industri secara keseluruhan?
Penutupan pabrik sebesar dan selegendaris Bata menjadi sinyal peringatan yang kuat bagi seluruh industri. Ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan global dan seberapa cepat pergeseran permintaan pasar bisa terjadi. Ini juga menyoroti pentingnya inovasi, efisiensi rantai pasok, dan kemampuan beradaptasi dengan model bisnis baru (seperti e-commerce) agar bisa bertahan dan tetap relevan.
Bagaimana cara UKM di industri kulit bisa meningkatkan daya saing mereka?
UKM dapat meningkatkan daya saing melalui beberapa cara: (1) Mengadopsi teknologi digital untuk pemasaran dan manajemen, (2) Berkolaborasi dalam sebuah klaster atau asosiasi untuk mendapatkan akses yang lebih baik ke bahan baku dan pasar, (3) Fokus pada inovasi desain dan menciptakan produk yang unik untuk pasar niche, dan (4) Memanfaatkan tren konsumen yang menyukai produk handmade, lokal, dan berkelanjutan sebagai nilai jual utama.
Apakah pertumbuhan industri ini hanya terkonsentrasi di Jawa?
Secara historis, sebagian besar industri manufaktur besar memang terkonsentrasi di Pulau Jawa. Namun, sentra-sentra kerajinan kulit dan alas kaki berbasis UKM tersebar di berbagai daerah, seperti Manding di Yogyakarta, Garut di Jawa Barat, dan daerah lainnya. Pemerintah juga terus mendorong pemerataan investasi ke luar Jawa melalui kebijakan seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk menyebarkan pertumbuhan ekonomi.
Referensi
- Antara News – Leather, footwear industry posts 5.90 percent YoY growth in Q1
- The Jakarta Post – Bata’s Indonesia factory closure a warning for other manufacturers
- International Trade Administration – Indonesia – Country Commercial Guide (Footwear)
- Kementerian Perindustrian RI – Industri Manufaktur Konsisten Sumbang Surplus Neraca Perdagangan
- Statista – Footwear Market in Indonesia