
Dalam riuh rendahnya sebuah bengkel penjilidan buku, di antara aroma lem, kulit, dan kertas tua, terdapat pahlawan tanpa tanda jasa yang sering kali luput dari perhatian. Ia bukan alat potong yang berkilauan atau benang jahit yang berwarna-warni. Ia adalah sebuah bak sederhana yang terletak di bawah mesin tekan, sebuah komponen mendasar yang dikenal sebagai Tub. Meskipun namanya terdengar biasa, perannya dalam menjaga keteraturan, efisiensi, dan kualitas hasil akhir sebuah buku tidak dapat diremehkan. Memahami fungsi Tub adalah memahami filosofi kerja seorang perajin sejati, di mana kebersihan dan ketertiban adalah fondasi dari setiap mahakarya.
Tub lebih dari sekadar tempat sampah. Ia adalah saksi bisu dari setiap proses kreatif, penampung setiap sisa material yang menandakan sebuah buku sedang dibentuk dengan tangan. Dari serutan punggung buku saat proses rounding and backing hingga potongan kertas sisa trimming, semuanya terkumpul di satu tempat. Tanpa kehadirannya, area kerja akan menjadi lautan kekacauan, mengganggu konsentrasi, mengotori material lain, dan bahkan berpotensi merusak mekanisme presisi dari mesin tekan itu sendiri. Inilah mengapa, dalam ekosistem penjilidan buku tradisional, Tub memegang peranan vital yang melampaui wujud fisiknya yang sederhana.
Etimologi dan Asal Usul: Sebuah Nama yang Jujur
Nama “Tub” berasal dari bahasa Inggris yang secara harfiah berarti “bak” atau “bak mandi”. Penamaan ini sangat lugas dan deskriptif, merujuk langsung pada bentuk dan fungsinya. Tidak ada metafora rumit atau istilah teknis yang tersembunyi. Pada masa lalu, komponen ini memang sering kali berupa bak kayu dangkal, menyerupai bak cuci kecil, yang diletakkan di lantai, tepat di bawah celah antara dua “pipi” (cheeks) dari lying press. Kejujuran dalam penamaan ini mencerminkan pendekatan pragmatis para perajin zaman dulu, di mana fungsi mendahului bentuk, dan setiap komponen diberi nama sesuai dengan apa yang dilakukannya.
Evolusi Material dan Desain
Secara historis, Tub dibuat dari kayu solid yang kuat seperti ek (oak) atau beech, jenis kayu yang umum digunakan untuk membuat perabotan dan alat kerja karena daya tahannya. Sering kali, bagian dalamnya dilapisi dengan material tahan air seperti timah atau seng. Pelapisan ini sangat penting untuk mencegah kayu menjadi lapuk akibat kontak terus-menerus dengan sisa lem yang mungkin masih basah atau serutan kayu dari papan buku yang lembap.
Desainnya pun berevolusi seiring waktu. Pada awalnya, ia mungkin hanya sebuah kotak kayu terpisah yang bisa digeser masuk dan keluar dari bawah mesin tekan. Namun, seiring perkembangan desain lying press itu sendiri, Tub mulai terintegrasi dengan struktur penyangga (stand) mesin. Banyak press stand dari abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang dirancang dengan bagian bawah yang berfungsi sebagai nampan atau rak penampung. Desain terintegrasi ini tidak hanya lebih kokoh tetapi juga lebih efisien, memastikan semua kotoran jatuh tepat ke tempatnya tanpa celah.
Tub adalah manifestasi fisik dari prinsip ‘a clean space for a clear mind’, sebuah filosofi yang memastikan setiap goresan, jahitan, dan tekanan pada buku dilakukan dengan presisi tanpa gangguan.
Pada era modern, terutama pada mesin tekan yang diproduksi secara komersial atau dibuat oleh perajin kontemporer, materialnya bisa bervariasi. Ada yang tetap setia menggunakan kayu untuk menjaga estetika klasik, sementara yang lain memilih logam seperti baja atau aluminium karena lebih tahan lama dan mudah dibersihkan. Beberapa perajin bahkan membuat Tub dari plastik industri yang ringan namun kuat. Apapun materialnya, fungsi fundamentalnya tetap sama: menjaga kebersihan dan keteraturan.
Peran Vital di Bengkel Penjilidan Buku
Untuk memahami betapa pentingnya Tub, bayangkan sebuah hari kerja seorang penjilid buku di abad ke-18. Mereka mungkin sedang mengerjakan punggung beberapa buku sekaligus. Prosesnya melibatkan penjepitan blok buku dengan sangat kencang di lying press, lalu menggunakan gergaji kecil (saws) untuk membuat kerf atau takik untuk tali penjilidan. Proses ini menghasilkan banyak sekali debu kertas. Setelah itu, mereka akan membentuk punggung buku menjadi cembung menggunakan palu (backing hammer), yang juga menghasilkan serpihan. Terakhir, mereka mungkin akan memangkas tepi buku (trimming) menggunakan plough, sebuah alat potong yang bergerak di sepanjang rel press, menghasilkan potongan kertas yang panjang dan tipis.
Semua sisa material ini, debu kertas, serutan papan, potongan benang, dan sisa lem kering, akan jatuh ke bawah. Tanpa Tub, semua itu akan berserakan di lantai, terinjak-injak, dan beterbangan di udara. Debu dapat mengganggu pernapasan dan mengotori tumpukan kertas bersih atau kulit yang menunggu untuk digunakan. Sisa lem bisa membuat lantai lengket dan berbahaya. Kekacauan visual juga dapat memecah konsentrasi, sesuatu yang tidak diinginkan oleh perajin yang sedang melakukan pekerjaan presisi.
Tub menyelesaikan semua masalah ini dengan satu solusi elegan. Ia menciptakan zona khusus untuk limbah produksi. Di akhir hari kerja, atau kapan pun diperlukan, perajin hanya perlu menarik keluar Tub atau menyapu isinya untuk dibuang. Ini adalah sebuah sistem manajemen limbah sederhana namun sangat efektif yang telah menjadi bagian dari alur kerja penjilidan buku selama berabad-abad.

Lebih dari Sekadar Alat: Sebuah Filosofi Kerja
Di Hibrkraft, kami memandang setiap alat tidak hanya dari fungsi mekanisnya, tetapi juga dari cerita dan filosofi yang dibawanya. Tub, dalam kesederhanaannya, mengajarkan kita beberapa pelajaran penting tentang seni kerajinan tangan (craftsmanship).
1. Pentingnya Keteraturan (The Importance of Order)
Seorang perajin yang hebat tahu bahwa lingkungan kerja yang teratur adalah cerminan dari pikiran yang teratur. Kekacauan fisik dapat menyebabkan kekacauan mental, yang pada akhirnya akan tercermin pada kualitas pekerjaan. Tub adalah alat pertama dalam menjaga keteraturan ini. Dengan menyediakan tempat khusus untuk segala sesuatu yang “tidak terpakai”, ia memungkinkan perajin untuk fokus sepenuhnya pada tugas yang ada di tangan.
2. Efisiensi dalam Alur Kerja (Efficiency in Workflow)
Bayangkan harus berhenti setiap beberapa menit untuk membersihkan serutan dari area kerja Anda. Tentu sangat tidak efisien. Tub mengintegrasikan proses pembersihan ke dalam alur kerja itu sendiri. Kotoran secara otomatis terkumpul di satu tempat, dan pembersihan besar hanya perlu dilakukan sesekali. Ini menghemat waktu dan energi, memungkinkan perajin untuk tetap berada dalam “zona” kreatif mereka lebih lama.
3. Penghargaan Terhadap Proses (Respect for the Process)
Merawat alat dan ruang kerja adalah bentuk penghargaan terhadap kerajinan itu sendiri. Tub yang terawat baik, yang secara rutin dikosongkan dan dibersihkan, menunjukkan bahwa pemiliknya peduli pada setiap aspek pekerjaannya, bukan hanya hasil akhirnya. Ini adalah tanda seorang profesional sejati. Di Hibrkraft, prinsip ini kami terapkan dalam setiap proyek, memastikan bahwa prosesnya sama indahnya dengan produk akhirnya.
Sama seperti Tub yang mengumpulkan sisa material untuk menjaga kebersihan buku, sebuah jurnal menjadi wadah untuk pikiran, ide, dan keresahan, membersihkan mental kita untuk kejernihan dan kreativitas.
4. Koneksi Metaforis dengan Jurnal Pribadi
Kita dapat menarik paralel yang indah antara fungsi Tub dan praktik menulis jurnal. Dalam proses penjilidan, Tub mengumpulkan sisa-sisa fisik untuk menjaga kebersihan karya. Dalam kehidupan kita, sebuah jurnal pribadi berfungsi sebagai “Tub” untuk pikiran kita. Ia menjadi tempat kita menumpahkan ide-ide mentah, kekhawatiran, kegembiraan, dan semua “kekacauan” mental yang kita alami setiap hari. Dengan menuliskannya, kita membersihkan pikiran kita, menciptakan ruang untuk refleksi, kejernihan, dan kreativitas baru. Jurnal menjadi alat esensial untuk menjaga “kebersihan” mental, sama seperti Tub yang esensial untuk menjaga kebersihan fisik di bengkel.
Identifikasi dan Variasi dalam Dunia Nyata
Bagi Anda yang tertarik dengan alat-alat antik atau ingin membangun bengkel sendiri, penting untuk bisa mengidentifikasi Tub atau komponen fungsional yang setara. Jika Anda melihat sebuah lying press antik yang dijual bersama dengan stand kayunya (sering disebut tub stand), perhatikan bagian bawah stand tersebut. Apakah ada papan dasar yang membentuk sebuah nampan dangkal? Apakah ada tanda-tanda noda, goresan, dan bekas lem yang terkonsentrasi di area tersebut? Jika ya, kemungkinan besar itulah yang berfungsi sebagai Tub.
Pada beberapa desain, terutama dari Perancis, stand-nya bisa sangat dekoratif, dengan kaki-kaki yang diukir. Namun, di antara kaki-kaki tersebut, hampir selalu ada rak atau papan bawah yang melayani fungsi ini. Pada press buatan Inggris atau Amerika, desainnya cenderung lebih utilitarian, sering kali berupa kotak kokoh di mana press itu sendiri diletakkan di atasnya, dan seluruh bagian bawah kotak berfungsi sebagai ruang pengumpul.
Tips untuk Perajin Modern (DIY)
Jika Anda berencana membuat lying press stand sendiri, sangat disarankan untuk memasukkan elemen Tub ke dalam desain Anda. Berikut beberapa tips:
- Material: Gunakan kayu lapis (plywood) berkualitas tinggi atau kayu solid untuk konstruksi utama. Untuk dasarnya, pertimbangkan untuk melapisinya dengan selembar logam tipis atau memberinya beberapa lapis pernis poliuretan agar tahan air dan mudah dibersihkan.
- Desain: Buatlah bagian dasar sedikit lebih rendah dari tepinya, menciptakan sebuah nampan dangkal. Ini akan mencegah serutan dan debu tumpah ke lantai.
- Aksesibilitas: Pastikan Anda dapat dengan mudah menyapu atau menyedot kotoran dari dalam Tub. Jangan membuat sudut-sudut yang sulit dijangkau. Beberapa perajin bahkan membuat “pintu” kecil atau laci yang bisa ditarik keluar untuk mempermudah pembuangan limbah.
Pada akhirnya, Tub adalah lebih dari sekadar bak penampung. Ia adalah simbol dari sebuah etos kerja yang menghargai kebersihan, efisiensi, dan perhatian terhadap detail. Ia adalah fondasi yang tenang di mana karya-karya penjilidan yang indah dibangun, satu serutan dan satu potongan kertas pada satu waktu.
Referensi
- Bookbinding.com – Menampilkan berbagai jenis mesin tekan buku, termasuk yang memiliki stand dengan fungsi serupa Tub.
- Jeff Peachey’s Blog – Sumber daya mendalam tentang alat dan teknik konservasi buku, sering kali membahas detail historis dari lying press.
- Period Paper – Menyajikan cetakan dan diagram historis yang menunjukkan komponen alat penjilidan buku, termasuk lying press dan stand-nya.
- Eden Workshops – Menawarkan rencana dan deskripsi untuk membuat sendiri lying press dan tub, memberikan wawasan praktis tentang konstruksinya.

Custom Notebook Impianmu
Dari detail proses yang bersih hingga hasil akhir yang sempurna. Wujudkan jurnal atau agendamu bersama kami.
Ceritakan visimu, kami akan merakitnya dengan kulit asli dan kualitas abadi, sebuah cerminan dari ketelitian yang kamu hargai.

Solusi Profesional untuk Bisnis
Profesionalisme tercermin dari detail. Hadirkan agenda premium berlogo perusahaanmu yang dibuat dengan standar tertinggi.
Seperti bengkel yang rapi, produk kami menunjukkan komitmen pada kualitas. Tingkatkan citra brand Anda dengan Hibrkraft.

Reparasi & Konservasi Buku
Kami merawat setiap buku dengan filosofi perajin sejati. Pulihkan pusaka berhargamu dengan teknik dan rasa hormat.
Dari perbaikan struktur hingga pembersihan halaman, kami menerapkan ketelitian yang sama seperti merawat alat-alat bersejarah kami.