NYK: Kerajaan pertama di Indonesia

Kerajaan Kutai (305 – 1605 M)  yang berada di hulu sungai Mahakam Kalimatan Timur diyakini sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Hal itu diyakini oleh penemuan tujuh buah batu tulis ( Prasasti Yupa) yang ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta yang diperkirakan berasal dari tahun 400 M. Tujuh Prasasti tersebut menjadi sumber informasi mengenai kerajaan Kutai. Tidak ada prasasti yang menyebutkan nama jelas kerajaan ini, namun para ahli memutuskan untuk mengambil nama dari tempat prasasti ditemukan.

Raja pertama Kerajaan Kutai adalah Kudungga, lalu dilajutkan dengan putranya yang bernama Aswawarman dan mencapai puncak kejayaan pada pemerintahan Mulawarman.Pada prasasti Yupa diceritakan bahwa Mulawarman adalah raja yang baik, kuat, kuasa serta dermawan. Kerajaan Kutai runtuh pada saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam perang dengan Kerajaan Kutai Kartanegara. Kerajaan Kutai dan Kerajaan Kutai Kartanegara adalah dua kerajaan yang berbeda namun masih terletak di Sungai Mahakam. Hal itu menimbulkan friksi dan terjadilah peperangan yang mengakibatkan keruntuhan Kutai.

Ada beberapa sumber menyebutkan bahwa Kutai bukan kerajaan tertua di Indonesia. Tersebutlah Kerajaan Salakanagara. Berdasarkan Naskah Wangsakerta  – Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara, dijelaskan bahwa kerajaan Salakanagara berdiri pada tahun 130 M. Hal itu berarti jauh sebelum kerajaan Kutai yang berdiri pada abad ke-4.

Pendiri kerajaan Salakanagara adalah Dewawarman. Ia adalah seroang duta keliling, pedangang sekaligus perantau dari Pallawa, Bharata (India). Salakanagara beribukota di Rajatapura hingga tahun 362M dan menjadi pusat pemerintahan Raja. Pada tahaun 363M, Salakanagara berada dibawah kekuasaan Tarumanagara. Pendiri  Tarumanagara adalah Jayasingawarman yang merupakan menantu Raja Dewawarman VIII.

Namun, masih terjadi perdebatan apakah Naskah Wangsakerta ini asli atau palsu karena naskahnya terlalu bersifat sejarah tidak seperti naskah sejarah pada umumnya seperti babad, kidung, hikayat, tambo, dan carita.Selain itu juga ada dugaan bahwa penyusun naskah sudah membaca karya sarjana barat.

Berbagai sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: